Program TOEIC untuk Lulusan UMM

Author : Humas | Selasa, 03 Agustus 2010 07:10 WIB
 

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu concern dalam usaha meningkatkan kualitas alumninya. Language Center (LC), salah satu unit kerja, turut melakukan kreatifitas dengan melakukan terobosan pembaharuan kurikulum. Jumat (23/07), di ruang sidang rektor, LC bersama BKLN mengundang seluruh ketua dan sekretaris jurusan se-UMM untuk memperkenalkan perubahan kurikulum pelajaran bahasa Inggris. Acara yang diberi nama Dissemination of new paradigm in English teaching tersebut sebagai bentuk sosialisasi  perubahan program English for Specific Purposes (ESP) menjadi  Test of English as International Communication (TOEIC) basic of teaching.

“TOEIC memang perlu agar kualitas alumni juga dapat ditingkatkan”, ungkap PR I saat membuka acara tersebut. Diakuinya, besarnya biaya yang dikeluarkan nantinya tidak menjadi masalah demi terwujudnya lulusan yang mampu bersaing secara internasional. Selain itu, disinggung pula oleh Prof. Dr. Sujono, M.Kes agar pihak BKLN membantu para dosen untuk mendapatkan peluang belajar di luar negeri dari DIKTI. Serta dibentuknya Lembaga Semi Otonom (LSO) bahasa Inggris di setiap fakultas untuk mendukung program itu.

 Kepala LC, Dra. Dwi Poedjiastuti, MA., menjelaskan bahwa acara tersebut juga dimanfaatkan untuk sharing tentang ESP. Hasil evaluasi internal LC terhadap program ESP yang berjalan mulai 1992, menunjukkan ketidaksinergian antara materi ESP dengan tolok ukur kelulusan mahasiswa. “Selama ini yang diajarkan ESP disesuaikan dengan disiplin ilmu masing – masing jurusan, sedangkan treatment yang dipakai TOEFL jadi tidak nyambung dengan yang diajarkan”, bebernya selanjutnya.

Selain itu, TOEFL yang selama ini diberikan kepada calon lulusan jarang terpakai. Hampir 90% alumni lebih banyak yang bekerja dibanding yang  melanjutkan ke jenjang S2. “dengan demikian TOEIC akan lebih bermanfaat sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja”, ungkap dosen jurusan Bahasa Inggris tersebut. Kelebihan lain dari program ini adalah proses pengajaran akan lebih fokus, karena pembelajaran diarahkan pada English General.

“Selain itu sertifikat yang diterima tidak bersifat prediksi atau local, tetapi bisa diterima dimana saja karena sertifikat dikeluarkan oleh Education Test Service (ETS) pemilik paten program tersebut”, jelas Poedji menambahkan. Ditawarkan tiga kelas sebagai kelas pengganti atau remidi, yaitu kelas saat semester sela, kelas khusus dan kelas akselerasi. Diharapkan tidak ada lagi alasasan bahwa ESP atau TOEIC ini nantinya memperlambat kelulusan mahasiswa seperti yang masih banyak terjadi saat ini. “Bagi mahasiswa lanjut yang belum lulus pun masih mengikuti silabus yang lama agar tidak mengganggu sistem”, tandasnya meyakinkan.

Ditambahkan oleh Drs. Soeparto, M.Pd., program yang rencananya baru akan diterapkan pada tahun ajaran 2011/2012 ini akan digodok lebih mendalam lagi. Misalnya dengan memberi training untuk para dosennya sendiri atau dengan mendatangkan pakar TOEIC.  “Proses pembelajaran harus mulai in line atau satu jalur jangan menggok – menggok lagi”, ungkap kepala BKLN tersebut serius. rwp/jss

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image