PGSD UMM Helat Festival Ludruk untuk Tumbuhkan Kecintaan pada Kesenian Lokal

Author : Administrator | Kamis, 10 Januari 2019 15:54 WIB
Salah satu pertunjukan kelompok Ludruk. (Foto: Aan/Humas UMM)

KESENIAN LUDRUK mungkin kini kalah pamor dengan tontonan televisi dan bioskop. Ditakutkan, generasi muda mulai meninggalkan dan tak lagi dikenal di masa mendatang. Meski begitu, kesenian yang tercatat lahir di Jombang Jawa Timur ini mesti tetap dilestarikan. Salah satunya dikenalkan melalui bangku perkuliahan. Ikhtiar yang dilakukan sekelompok mahasiswa ini patut diacungi jempol.

Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) menggelar Festival Ludruk Kampus, Kamis (10/1). Festival ini digelar dalam rangka menuntaskan tugas akhir mata kuliah Karawitan oleh mahasiswa angkatan 2016. Menampilkan lakon Sarip Tambak Rasa, Maling Caluring, Babad Surabaya, Sakerah, Jaran Mayang Seta, dan Jaka Sambang.

Lakon yang dipentaskan merupakan cerita lokal yang kebanyakan dengan latar zaman kolonial. Kemudian naskah yang sudah diadaptasi akan dipentaskan yang semua, baik di belakang maupun di depan panggung, diperankan mahasiswa. “Mahasiswa PGSD ini kan calon guru SD, jadi saya rasa perlu untuk paham seni tradisi,” jelas Danang Wijoyanto, S.Pd, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Karawitan.

Menurut Danang, perlu untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak dini. Maka mahasiswa PGSD harus dibekali pengetahuan kesenian lokal. Sehingga ketika menjadi Guru SD bisa menyalurkan kepada murid-muridnya. Danang takjub dengan totalitas mahasiswanya ketika melaksanakan tugas. “Hasilnya melebihi batas dan target yang saya tetapkan, saya sangat puas sekali,” papar Danang bangga.

Sedangkan Judha Bira Krisna selaku Ketua Pelaksana Festival Ludruk Kampus mengatakan bahwa ini pengalaman yang luar biasa. Ia mengemukakan bahwa Festival Ludruk Kampus kali ini adalah yang pertama kalinya digelar di UMM. “Saya harap langkah awal ini bisa menumbuhkan rasa cinta yang besar dari mahasiswa PGSD UMM kepada budaya lokal,” ujarnya.

Pada periode 1920 sampai 1925 ludruk berkembang. Awalnya pertunjukan jalanan yang berpindah-pindah tempat atau ngamen. Berubah dengan tempat pertunjukkannya yang menetap di halaman rumah atau ditanggap. Seperti ditanggap dalam pesta perkawinan, ruwatan, khitanan, dan sebagainya. “Semoga melalui festival ini, Ludruk kembali populer dan kembali digandrungi masyarakat,” pungkasnya. (usa/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


1