Peserta LEx UMM Ciptakan Prototipe Mesin Pencetak bagi Pengusaha Alat Dapur di Junrejo Batu

Author : Humas | Rabu, 19 September 2018 17:57 WIB
Prototipe desain area untuk UD Rizky yang memproduksi alat-alat dapur
 
Dilaksanakan ke-lima kalinya, program rutin Learning Express (LEx) yang diadakan International Relation Office (IRO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tetap sukses mencetuskan ide-ide yang luar biasa. Bekerja sama dengan Singapore Polytechnic  (SP) dengan menggunakan metode Design Thinking, membuat LEx tampil berbeda dengan program community service lainnya.
 
“Yang membedakan LEx dengan community service lainnya adalah peserta memakai metode design thinking dalam diskusi mereka,” papar koordinator LEX UMM, Aditya Pratama.
 
Berangkat dari ide untuk merancang produk yang mudah dibuat, simpel, murah dan bertahan lama, salah satu kelompok Learning Express UMM, Wooden Kitchen, sukses mendapat perhatian dari pemilik usaha pembuatan alat-alat dapur di Desa Junrejo, Batu. Prototipe yang diciptakan 18 orang yang terdiri dari mahasiswa Singapore Polytechnic dan mahasiswa UMM tersebut sangat diapresiasi Syaiful si pemilik usaha.
 
Mengutamakan keselamatan pekerja, kelompok ini membuat sebuah prototipe alat yang lebih efisien untuk membuat produk alat-alat dapur. Mereka mendisain sebuah rangkaian mesin pencetak peralatan dapur yang dilengkapi dengan penutup transparan. Alat tersebut dapat bekerja lebih efisien dan nyaman untuk para pekerja karena para pekerja tidak perlu memakai masker dan alat keamanan lainnya untuk menghindari serpihan kayu dari sayatan saat membentuk peralatan dapur.
 
Selain itu, demi menjaga kinerja yang sistematis kelompok ini juga mendesain tempat kerja yang lebih terorganisir mengingat saat ini tempat kerja tersebut berbeda-beda. Misalnya tempat pemotongan menuju pengeringan kayu memakan sekitar 10 menit perjalanan. 
 
Peserta LEX ini juga tidak setengah-setengah dalam membantu para pengusaha ini. Mereka juga membuatkan pasar untuk Syaiful di sosial media seperti Instagram dan Website. Hal ini sangat membantu Pak Syaiful dalam memasarkan produknya.
 
Melalu website udrizky.neocities.org dan  instagram udrizky1, yang merupakan nama putri Syaiful, mereka berharap akan semakin banyak yang kenal serta membeli produk ini. Benar saja, pucuk dicinta ulam tiba. Hanya dalam waktu tiga hari, Syaiful berhasil mendapat oderan sekitar 100 buah telenan untuk dikirim ke Jakarta. 
 
“Kami berharap bisnis ini akan meningkat dan sukses kedepannya, “ pungkas Yan Heng, mahasiswa SP senang.
 
Terakhir, menyempurnakan pengabdiannya, kelompok ini membuat excel sheet untuk memudahkan Syaiful dalam mengelola keuangan usaha miliknya. Mereka juga mengajarkan bagaimana cara mengoprasikan sekaligus membuatkan buku panduan cara mengoprasikan excel sheet tersebut.
 
“Karena kami dari fakultas yang berbeda, ini memudahkan kami dalam mengembangkan ide tersebut. Ada yang dari bisnis, kami membuat excel sheet, ada yang dari teknik kami membuat protipe nya. Kami satukan ide tersebut dalam satu mindset,” tutup Kieran, mahasiswa SP. (Humas UMM)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image