Peringati International Women’s Day, Mahasiswa UMM: Hak Perempuan Masih Seringkali Terabaikan

Author : Humas | Sabtu, 09 Maret 2019 09:13 WIB
Puluhan massa aksi berdiri di depan Perpustakaan Pusat UMM untuk mengadakan mimbar bebas. (Foto: Istimewa)

MEMPERINGATI International Women’s Day yang jatuh hari ini, Jumat (8/3), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat “Aufklarung“ Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (UMM) menggelar aksi longmarch dan mimbar bebas. Aksi digelar di tiga titik keramaian, yakni Perpustakaan Pusat UMM, depan Kampus III UMM dan depan Terminal Landungsari. Diikuti puluhan mahasiswa dari lintas jurusan.

“Melihat kondisi perempuan saat ini yang banyak tidak menyadari adanya praktek-praktek diskriminasi, eksploitasi, kekerasan seksual dan juga kekerasan verbal atau non verbal yang marak terjadi disekitar kita. Berbagai persoalan ini sangat dekat sekali dengan kehidupan kita. Bahkan parahnya, korban tidak sempat berfikir bahwa itu adalah hal-hal pelecehan,“ beber Siska, humas aksi saat ditemui di sela agenda.

Masyarakat Indonesia, sebutnya, sudah sewajibnya membekali diri dengan pengetahuan mengenai kesetaraan gender. Juga, saling memahamkan antara sesama bahwa masih adanya praktik kekerasan, terkhusus kepada perempuan. “Perempuan dan laki-laki mempunyai semangat perlawanan yang tinggi dalam berjuang bersama, dan sudah sepantasnya saling memahamkan satu dengan lainnya,“ katanya.

Baca juga: Di Era Industri 4.0, Perempuan dan Laki-Laki Punya Kesempatan yang Sama

Menyuarakan perampasan hak-hak perempuan, sambung Siska, merupakan bentuk perwujudan karakter gerakan pembebasan dan keberpihakan terhadap kaum mustadh’afin atau kaum tertindas perempuan. “Sejatinya setiap individu baik perempuan maupun laki-laki pantas mendapatkan hak yang sama atas dirinya dalam perwujudan hak-hak asasi manusia,“ kata mahasiswa prodi Teknik Informatika ini.

Beberapa butir tuntutan yang mereka suarakan di antaranya, hapuskansegala bentukeksploitasi terhadapkaumperempuan; hapuskan kekerasan berbasis gender di lingkungan masyarakat, pendidikan, dan pekerjan; berikan hak hak normatif buruh perempuan, serta; wujudkan akses pemulihan terhadap korban pelecehan seksual. Selain melalui mimbar bebas, aksi juga diwarnai pembacaan puisi.

Di dunia pekerjaan, masih ada stereotype gender yang menjebak bahwa perempuan identik dengan penampilan menarik seringkali dicantumkan sebagai kriteria persyaratan sebuah jabatan pada lowongan pekerjaan. Hal tersebut menjurus pada pelecehan. Misalnya perusahaan menetapkan pegawai perempuan agar memakai rok mini dan cenderung menonjolkan kewanitaannya. Ketidakadilan ini terjadi di semua sektor.

Baca juga: Wagub Emil di UMM: Potensi Perempuan Merupakan Aset Nasional yang Besar

“Di bidang Industri, misalnya, upah laki-laki mencapai Rp 2,7 juta dan perempuan Rp 2 juta. Sektor keuangan, upah laki-laki Rp 3,7 juta dan perempuan Rp 3,6 juta. Selanjutnya untuk jasa, upah laki-laki Rp 3,4 juta dan perempuan yaitu Rp 2,4 juta.  Pada penempatan promosi pula, perempuan menempati posisi terendah atau menengah dan jarang ada yang mencapai posisi eksekutif,“ bebernya.

Sepantasnya, katanya, perempuan terbebas dari segala bentuk kekerasan baik fisik maupun no fisik, diskriminasi dan eksploitasi. Hak perempuan adalah HAM yang pengaturannya secara eksplisit terdapat di dalam Undang-Undang Hak Asasi Manusia RI No. 30 Tahun 1999 pada Pasal 46 sampai dengan Pasal 51. Dari pasal-pasal tersebut dapat diintisarikan mengenai hak-hak perempuan di berbagai bidang.

“Banyak hak-hak perempuan yang dilanggar. Di antaranya di bidang politik dan pemerintahan, kesehatan, pendidikan dan pengajaran, ketenagakerjaan, kewarganegaraan, dalam ikatan dan putusnya perkawinan serta dalam melakukan perbuatan hukum. Walaupun secara teori mengenai hak-hak perempuan dijamin oleh pemerintah, namun dalam prakteknya seringkali terabaikan,“ tandasnya. (*/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image