Pemikiran Etis dalam Penelitian Kesehatan, KEPK UMM: Wajib!

Author : Humas | Senin, 15 Oktober 2018 14:03 WIB
Para peserta berfoto usai mengikuti pelatihan (Foto Istimewa)
KOMISI Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammdiyah Malang (KEPK UMM) mengadakan pelatihan Etik Dasar Lanjut (EDL) untuk menekankan berpikir ilmiah dan etis dalam suatu penelitian. Sebab, peneliti harus mempunyai pemikiran etis dalam melakukan penelitiannya yang mengambil subyek manusia atau hewan. Tak kalah penting, pemikiran etis juga wajib dihadirkan agar sebuah peneltiian mempunyai batasan yang jelas. 
 
Dalam pelatihan ini, Hidajah Rachmawati selaku Sekretaris KEPK UMM menegaskan, sebuah penelitian sudah sangat wajar jika harus berpikir ilmiah namun peneliti tidak boleh melupakan pemikiran etis. “Jadi kalau selama ini, sebuah penelitian pasti disandarkan pada berpikir ilmiah, kan, sudah. Tetapi harus juga dibarengi berpikir etis kalau subyek penelitiannya adalah manusia dan hewan,” jelas Hidajah. 
 
Tak kalah penting, sambung Hidajah, penelitian yang dilakukan dalam bidang apapun yang mengambil manusia dan hewan sebagai subyek harus memenuhi Etical Clearence (EC). EC adalah kelayakan etis yang tertulis untuk menentukan sebuah penelitian itu layak dilakukan atau tidak. “Supaya apa penelitian harus mempunyai Etical Clearence? Supaya tidak ada subyek atau manusia yang dieksploitasi,” tambahnya.
 
Dalam EC ada tiga prinsip utama yaitu Baik, Adil, dan Hormat (BAH). Penelitian harus memberi manfaat yang baik terhadap subyek maupun dalam bidang keilmuan terkait. Peneliti juga harus adil dalam meneliti yaitu adil dalam bentuk keseimbangan manfaat dengan resiko yang harus ditempuh subyek. Terakhir, peneliti harus hormat kepada subyek dengan mempertimbangkan resiko psikis dan fisik subyek yang diteliti. 
 
Pedoman yang digunakan dalam Etical Clearence adalah pedoman yang dibuat oleh Council for International Organizations of Medical Sciences (CIOMS) yang dibuat pada tahun 2016. Pedoman itu berlaku secara global. Jadi setiap penelitan yang dilakukan dengan subyek manusia atau hewan harus mematuhi pedoman itu. “Dengan adanya pelatihan ini diharapkan tidak ada pelanggaran etis dalam penelitan,” pungkas Hidajah.
 
Pelatihan itu dihadiri berbagai instansi. Selain dari UMM, juga hadir RSUD Dr. Harjono Ponorogo, Poltekes Malang, Universitas Brawijaya, dan Stikes Kendedes. Pelatihan yang diselenggarakan selama tiga hari ini dimulai sejak tanggal 10 hingga 12 Oktober 2018 kemarin di Aula Kampus II UMM. (Humas UM)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image