Peduli Kesehatan Mental Remaja, Mia Bawa Isu Bullying di Indonesia ke Korea

Author : Humas | Kamis, 28 Maret 2019 09:59 WIB
Peserta dari berbagai negara. (Foto: Istimewa)

Miarti Amanah Riesky, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini baru saja kembali ke tanah air setelah beberapa waktu lalu mengikuti International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea.

Mengusung tema “Leading the Generation Unlimited to Prepare for 2030”, kegiatan yang diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) yang bekerja sama dengan Studec International kali ini diikuti 130 peserta dari 25 negara. Mulai dari negara berkembang seperti India, Kamboja, Indonesia sampai negara maju seperti Inggris, Australia dan Singapura.

Berbekal esai berjudul “The importance of Mental Health for Young Generation”, Mia berhasil terpilih untuk berangkat bersama 29 peserta lain dari Indonesia. Dikisahkan Mia, esai ini diangkatnya dari pengalaman pribadi dimana ia pernah mengalami bulliying di lingkungan SMA nya yang berada di ibu kota Jakarta.

“Saya ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa kondisi remaja di Indonesia sangat rawan bulliying,” tandas Mia (Rabu, 27/3).

Mia berfoto di salah satu tempat ikonik di Korea Selatan. (Foto: Istimewa)

Baca juga: Empat Warga Jerman Belajar Energi Alternatif ke PLTMH UMM

 Acara yang diselenggarakan selama lima hari empat malam ini membahas tentang berbagai isu yang sedang marak dikalangan milenial seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan juga budaya. Selain itu, program ini juga memberikan pengalaman serta pengetahuan non akademis tentang budaya Korea, diantaranya memakai Hanbok atau pakaian khas korea, upacara pembuatan teh dan juga membuat Kimchi (makanan khas Korea).

“Selain itu kami juga berkesempatan mengunjungi stasiun televisi nasional Korea yakni NBC TV  dan belajar seluk beluk media yang ada di negeri tersebut,” tambah Mia.

Diakui Mia, keberangkatannya ke Korea bukan tanpa hambatan. Perempuan 20 tahun ini sempat terhalang izin orang tua lantaran harus pergi sendiri tanpa pendampingan. Namun setelah memberikan pengertian, restu sang ibu pun didapatkan.

“Saat disana, mama malah yang paling bangga,” ungkapnya.

Meski telah sering mengikuti berbagai kegiatan internasional di dalam negeri,  anak kedua dari tiga bersaudara ini merasakan pengalaman yang sangat berbeda saat berada di Korea pada Februari hingga awal Maret lalu. Selain dari  perbedaan cuaca yang sangat drastis, budaya orang Korea juga membuat Mia kagum.

Baca juga: Targetkan Juara Asia, Mekatronic UMM Siap Taklukkan Sirkuit Sepang Malaysia

“Awalnya saya kaget dengan cuaca, suhu disana mencapai -5 derajat celcius. Selain itu, saya juga takjub dengan budayanya, dari segi pendidikan saja siswa SMP harus menimba ilmu di sekolah selama hampir 14 jam setiap harinya,” tambahnya.

Di akhir Mia berpesan kepada mahasiswa lain untuk selalu aktif mencari informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan, termasuk diluar dunia akademis.

“Kita sebagai mahasiswa harus aktif mencari informasi diluaran sana untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri, baik di akademis maupun non akademis,” pungkasnya. (zak/sil)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Muhammadiyah