Pascasarjana PTM se Indonesia Gelar Konferensi Nasional di UMM, Bahas Humanisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Author : Humas | Selasa, 17 Desember 2019 09:38 WIB
Para peserta dan pembicara. (Foto: Rizki/Humas)

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era Industri 4.0, humanisme muncul sebagai gagasan netral yang ingin menegaskan martabat manusia untuk memanfaatkan potensi dan kecerdasan yang dimiliki. Sayangnya tidak semua individu yang siap dalam menghadapi kemajuan teknologi beserta ilmu pengetahuanya. Untuk itu, Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhamadiyah Aisyiyah (APPPTMA) menghelat konferensi nasional di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sabtu, (14/12).

Dengan mengangkat tema besar “Humanisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”, konferensi ini diikuti mahasiswa dan dosen pascasarjana dari 24 perguruan tinggi Muhamadiyah se Indonesia. “Konferensi ini, selain untuk berdiskusi mengenai isu-isu humanisme, juga sebagai perekat dan pembanding pemikiran-pemikiran yang akan disejalankan dengan visi misi Muhamadiyah di dalam pengembangan program pascasarjana,” demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam pidato sambutannya.

Baca juga: Sekda Malang di UMM: Kita Harus Mampu Memberikan Inovasi

Konferensi ini menghadirkan 4 pemateri dari anggota  APPPTMA, yaitu Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si dari Universitas Muhammadiyah Sidenreg Rappang (Sidrap), Dr. Ribut Wahyu Eriyanti dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Adi Mansar Lubis dari Unibersitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Dr. Muhammad Azhar, M.A dari Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

 “Terdapat tiga point yang dibahas hasil dari turunan tema besar. Salah satunya tentang rekonstruksi sistem pendidikan, yakni perlu diadakan revisi yang selaras terkait kemanusiaan. Maksudnya, warga negara wajib hukumnya mendapat ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan harus dijadikan sebuah bibit yang nantinya akan kita rawat selaras dengan kemajuan teknologi,” jelas Lubis.

Baca juga: Smart Tongkang Karya Mahasiswa UMM Raih Silver Medal di Jepang

Di Jepang, terkait perkembangan teknologi sudah mulai mencanangkan “Society 5.0”, di mana masyarakat yang tinggal di lingkungan teknologi yang canggih, dapat menyelaraskan kehidupan dan menyesuaikan potensi agar tidak tertinggal dengan kemajuan Industri 4.0. “Dengan begitu, jika diterapkan di Indonesia yang notabennya demografi penduduk di usia produktif lebih tinggi, dapat dijadikan modal dasar pembangunan yang luar biasa,” demikian dilanjutkan oleh Ribut.

Peserta juga diwajibkan membuat call paper. Pada tahun ini, panitia membuat standar template penulisan call paper yang nantinya akan dipublikasikan sebagai output dalam prosiding atau tulisan jurnal. “Saat ini terdapat 132 karya dari call paper yang masuk, dan hanya 58 paper yang dapat dipublikasikan sesuai dengan standar. Ikhtiar ini guna meningkatkan kualitas output publikasi,” jelas Mokhamad Najih, Ph.D. selaku ketua pelaksana.

Konferensi yang digelar dua hari, selain dijadikan sebagai forum ilmiah ditujukan untuk mendesiminasikan karya-karya tulis dosen dan pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Serta, meningkatkan sinergi pengelolaan pascasarjana antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah agar dapat maju bersama. (riz/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image