Pakde Karwo: Ummatan Wasathan Harus Menyentuh Masyarakat Miskin

Author : Humas | Minggu, 28 Juni 2015 11:15 WIB

Gubernur Jawa Timur Soekarwo ikut berkomentar soal konsep ummatan wasathan yang diangkat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam Pengajian Ramadhan 1436 Hijriyah yang berlangsung pada Sabtu dan Ahad, 27-28 Juni 2015 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Baginya, konsep ummatan wasathan harus bisa menyentuh masyarakat miskin.

      Menurut tokoh yang lebih dikenal dengan Pakde Karwo ini, secara konseptual ummatan wasathan sudah sangat tepat, karena menitikberatkan pada pentingnya keseimbangan dan keadilan. “Mestinya prinsip keseimbangan ini bisa terwujud dalam regulasi, agar punya daya gerak,” kata Soekarwo dalam sambutannya di hadapan lebih dari 3000 warga Muhammadiyah se-Jawa Timur pada Sabtu (27/6) di UMM Dome.

      Soekarwo meyakini, jika diterapkan dengan benar konsep keseimbangan ini bisa membendung disparitas kaya-miskin yang salah satunya disebabkan oleh liberalisasi. Baginya, jika liberalisasi lebih menguntungkan kaum liberal, maka konsep ummatan wasathan yang menekankan keadilan harus menjadi virus yang mengatur keseimbangannya.

      Lebih lanjut ia menilai bahwa musuh paling kuat demokrasi adalah ketidakadilan, karenanya pembumian konsep ummatan wasathan bersifat mutlak agar masyarakat bawah tidak terhimpit oleh beban tersebut. “Pembumian konsep ini harus bisa menumbuhkan ekonomi warga,” tegasnya.

      Di akhir paparannya Soekarwo berharap agar Muhammadiyah dapat terus mengambil peran penting ini. “Semoga Muhammadiyah terus berkembang dan membantu masyarakat seperti sang surya menyinari masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.

      Pada sesi sebelumnya, Pengajian Ramadhan PWM ini telah mengulas tuntas konsep ummatan wasathan dalam kajian bertema “Ummatan Washatan untuk Indonesia Berkemajuan” yang dikaji secara historis oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Syamsul Anwar, secara fiqih oleh Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas, dan secara teologis oleh mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang juga cendekiawan Muhammadiyah, Prof Dr Amin Abdullah. (han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image