Okky Madasari Serukan Muatan Narasi Wacana Kritis di Tiap Karya Sastra untuk Perangi Ekstrimisme

Author : Humas | Sabtu, 03 November 2018 12:37 WIB
Okky Madasari (Foto: Aan/Humas)
PENULIS kenamaan Indonesia, Okky Madasari, mengisi kajian pekanan Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM), Jumat (02/18). Melalui tema “Sastra, Agama & Perdamaian”, Okky memaparkan pergerakan zaman di era milenial ini yang dikendalikan oleh narasi. 
 
“Apalagi di era setelah ’98 (reformasi, red.), kebebasan berpendapat sudah dijamin Negara. Secara hukum, masyarakat sudah tidak lagi dibayang-bayang ancaman sensor dan pemberedelan,” jelas penulis novel best seller “Maryam” itu. Momentum ini juga ditandai dengan mudahnya tiap orang mengakses informasi. 
 
Namun begitu, Okky meresahkan dengan atmosfer kebebasan ini, justru banyak buku-buku yang digandrungi adalah buku dengan genre bermuatan narasi wacana simbolik. Ia mengambil contoh buku Ayat-Ayat Cinta. Novel ini sangat digandrungi hingga naik cetak 160 ribu eksemplar dalam kurun tiga tahun. “Novel yang dilabeli sastra Islami seperti itu membentuk standar bagaimana novel islami itu. Akhirnya banyak yang meniru,” papar Okky.
 
Novel-novel seperti itu, sambung Okky, hanya mengulik nilai-nilai ke-Islaman di permukaan saja. Karena kerap kali yang ditunjukan terkait ke-Islamannya hanyalah sebatas simbol, seperti salam, sholat, dan ritus ibadah rutinan lainnya. Demikian, dinilai Okky, novel-novel seperti itu kehilangan roh keIslamannya dan tidak memberikan wacana kritis.
 
“Saya akhirnya menggali akar budaya seperti itu darimana datangnya. Akhirnya saya mendapatkan jawaban, yaitu berawal dari novel-novel Buya Hamka,” papar okky. Buya Hamka tidak diragukan lagi keulamaannya, namun ia memilih model novel-novel demikian karena berada di bawah tekanan kolonialisme yang menekan narasi-narasi tentang semangat perjuangan. 
 
“Ya, wajar kalau Buya Hamka memilih gaya seperti itu agar masih bisa bersuara tanpa harus ditekan. Kan Buya Hamka punya alasan, kalau penulis jaman sekarang apa alasannya?” lanjut Okky. 
 
Di jalur kepenulisan yang dipilihnya, Okky memilih untuk tetap memberi sajian narasi dengan sentuhan wacana kritis untuk mengkritisi label Islam simbolik. Menurutnya, dengan memberi sajian narasi wacana kritis, seorang penulis dapat melawan hegemoni narasi wacana Islam simbolik. “Wacana kritis seperti ini harus dibawa ke ranah yang lebih luas ke dalam masyarakat,” tegas Okky. 
 
“Sastra dan narasi yang membentuk perdamaian itu adalah narasi yang memberi wacana kritis dan tidak dogmatis yang hanya membuat orang setuju, tapi tidak tahu apa yang disetujui,” jelas Okky. 
 
Menurutnya mulai sekarang, para penulis harus berpacu dan berani memberi sentuhan wacana kritis di tiap karya yang ditelurkannya. “Kita harus merebut ruang pembaca dan merubah pola pikir mereka untuk berani mengkritisi dan menghindari gagasan dogmatis agar, tidak mudah terjebak radikalisme yang berujung ekstremisme,” pungkasnya. (usa/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image