Nazaruddin Malik: Umat Islam Tonggak Utama Penggerak Bangsa

Author : Administrator | Kamis, 17 Agustus 2017 08:42 WIB

Berita UMM

Atmosfer hikmat saat pelaksanaan upacara bendera memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto: Rino/Humas)
DERETAN empat puluh lima bendera merah-putih yang mengapit bendera Muhammadiyah dan Aisyiah di balik Heliped Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), disebut Wakil Rektor II Dr. Nazarudin Malik, M.Si semata sebagai simbolisme peran strategis umat Islam dalam dinamika kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, simbol tersebut juga menunjukan filosofi mendalam bahwa umat Islam sesungguhnya adalah tonggak utama penggerak bangsa ini. 
 
“Sebagai tonggak utama penggerak bangsa ini, umat Islam tidak perlu dicurigai apalagi diragukan kesetiaanya kepada NKRI. Islamophobia adalah sesuatu yang mustahil terjadi di Indonesia,” tegas Nazarudin dalam kesempatan menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia di Heliped UMM, Kamis (17/8). Tahun 1918, imbuhnya, berdirinya salah satu organisasi otonom kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan, adalah momentum penting dari lahirnya dasar gerakan perjuangan Islam, khususnya Muhammadiyah untuk membela bangsa ini. 
 
Dilanjutkan Nazarudin, Muhammadiyah juga berperan penting setelah proklamasi tahun 1945 dinyatakan. Adalah Prof. Dr. Mr. Raden Kasman Singodimedjo, tokoh Muhammadiyah yang mengusahakan diberlakukannya Jakarta Charter atau Piagam Jakarta yang merupakan “Gentlemen’s Agreement” dari bangsa ini terkait rumusan Pembukaan UUD 1945 ketika itu. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa Islam adalah bagian penting penegak proklamasi dan kemerdekaan Republik Indonesia. 
 
Bahkan dalam perkembangan perjalanan sejarah, ketika mayoritas umat Islam secara ekonomi dan sosial mengalami proses marjinalisasi, umat Islam tidak pernah menuntut lebih. Tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara, tanpa meminta lebih. “Itulah etos dan jiwa perjuangan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam di dalam menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” ungkapnya.
 
Oleh karenanya, tandas Nazarudin, nilai-nilai dasar dan ruh perjuangan yang diejawantahkan dalam praktik memberi lebih banyak, serta tidak pernah meminta lebih, adalah bagian penting dan harus terus dikedepankan di dalam mengkonsilidasi UMM menuju universitas yang lebih berkemajuan serta lebih menjunjung tinggi peradaban pendidikan.
 
Sebagai penutup orasinya, Nazarudin menerangkan bahwa berbagai kegiatan yang diselenggarakan di UMM pada peringatan HUT ke-72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hendaknya dijadikan momentum mensyukuri nikmat atas kemerdekaan yang telah diraih. Ia berharap, bangsa Indonesia dapat terus melaju menjadi bangsa yang modern, yang beradab dan menjunjung tinggi keadilan serta kemanusiaan. 
 
Menariknya, dalam kesempatan peringatan HUT RI di UMM tahun ini dihadiri 12 calon diplomat dari lima benua melalui program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats, yakni program Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia yang mendaulat unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM sebagai lembaga penyedia jasa pengajaran bahasa dan budaya Indonesia. (can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image