Masjid, Bangunan Pertama di Lokasi Rumah Sakit UMM

Author : Administrator | Rabu, 18 November 2009 00:00 WIB

Berita UMM

Salah satu pertanda eksistensi sebuah universitas adalah terus berjalannya pembangunan fisik. Sebab, berbeda dengan pembangunan non-fisik yang tidak mudah dilihat, maka pembangunan fisik bisa dijadikan ukuran. Itulah sebabnya, selain terus menata kultur ahlakul karima, sistem pelayanan dan akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga tak pernah berhenti melakukan pembangunan fisik kampus.

Dua tahun lalu UMM rampung membangun rumah Pembangkit Listrik Tenaga  Mikrohidro (PLTMH), perluasan gedung rektorat dan taman baca, kemudian setahun lalu membangun Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Mahasiswa dan gedung baru Laboratorium Teknik, tahun ini UMM sedang memacu pembangunan Rumah Sakit Akademik yang berlokasi di Jl. Tlogomas, sekitar 500 meter dari kampus III UMM. Tak hanya itu, saat ini juga pembangunan Rusunawa II dan persiapan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) juga sedang berlangsung. Di kawasan dalam kampus, UMM juga membuat dua kawasan baru untuk konservasi rusa dan kijang bantuan istana Bogor dari presiden BJ Habibie dan kawasan kebun buah unggulan.

Pembantu Rektor II Drs. Mursidi, MM, menyatakan UMM harus terus membangun dengan kemampuan sendiri. Kecuali Rusunawa dan PLTMH yang dibantu pemerintah, obyek bangunan lainnya sepenuhnya bersumber dari dana UMM. Pada obyek bantuan pemerintah, UMM memberi dana pendamping untuk melengkapi fasilitas standar yang diberikan pemerintah.

“Sebagai perguruan tinggi swasta, UMM memang mengandalkan lebih banyak pada kemampuan sendiri. Dengan pengelolaan yang baik dan penuh amanah, insya Allah UMM akan tetap membangun sebagai konsekuensi lembaga yang terus bergerak maju,” ujar Mursidi.

 

RS UMM

Sementara itu, pembangunan Rumah Sakit Pendidikan UMM (RS UMM) telah dimulai sejak 22 Juli 2009 lalu. Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo pada peletakan batu pertama pencanangan pembangunan RS UMM berharap UMM bisa lebih cepat mencapai world class university dengan dibangunnya RS itu.

Kepala Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Kampus (P3K) UMM, Ir. Ali Syaifullah, MT, mengatakan proses pra-pembangunan RS UMM telah berlangsung sejak dua tahun lalu. Menurutnya, selain membebaskan tanah yang telah mencapai sekitar tujuh hektar dari sembilan hektar yang targetkan, UMM sangat memperhatikan kepentingan lingkungan di sekitarnya. Pihaknya tidak mau ambil risiko ditolak masyarakat setelah semua proses pembangunan dimulai. “Untuk itu semua ijin ke pemerintah dan masyarakat sekitar kita selesaikan terlebih dahulu. Bagaimanapun kita harus memastikan bahwa keberadaan RS kita nantinya akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar sehingga dukungan mereka sangat penting. Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias,” ujar Ali.

Saat ini dilokasi RS itu sudah terbangun sebuah masjid berlantai dua dan satu lantai basement. Rencananya, masjid bergaya arsitek Tiongkok itu akan menjadi pusat kegiatan perkantoran di lantai basement dan untuk arena sholat di lantai 1 dan 2.

Rektor Dr. Muhadjir Effendy, MAP, menjelaskan alasan dibangunnya terlebih dahulu masjid di kawasan RS. Pertama, sebagai fasilitas masyarakat sekitar agar lebih dekat dan mengenal kawasan RS. Masyarakat bisa memanfaatkan masjid itu sebelum RS selesai dibangun. Kedua, pada lantai dasar dimanfaatkan sebagai perkantoran RS untuk sementara, sebelum gedung utama RS selesai sehingga memudahkan koordinasi pembangunannya. Ketiga, yang paling penting adalah filosofi bahwa membangun moral jauh lebih penting sebelum membangun fisik.

Sedangkan alasan dipilihnya arsitek Tiongkok dengan tiga lapis atap masjid, menandakan bahwa UMM bersifat terbuka, plural dan bisa belajar dari mana saja, termasuk ke negeri China. Tiga lapis atap, menurutnya, menandakan kekuatan Iman, Islam dan Ihsan.

Rektor menargetkan pembangunan RS itu akan rampung dalam waktu dua tahun dengan sumber dana UMM sendiri. Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan masuknya investor yang akan ikut menanamkan investasinya di RS UMM sebagaimana ketika membangun hotel pendidikan University Inn UMM lima tahun lalu.

Rektor berharap, RS UMM nantinya akan menjadi pusat pelayanan kesehatan yang menjangkau semua lapisan masyarakat. Dengan sistem subsidi silang, masyarakat kurang mampu akan disubsidi untuk mendapatkan pelayanan yang layak. Selain itu, RS UMM juga diharapkan menjadi pusat riset medis untuk mengembangkan keilmuan kedokteran, keperawatan dan farmasi. Di dalamnya juga terdapat pusat rehabilitasi sosial, bahkan bila perlu rehabilitasi ketergantungan narkoba. (nas)

 

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image