Mahasiswa FISIP UMM Siap Kawal Pemilukada Serentak 2018

Author : Humas | Rabu, 20 Desember 2017 14:46 WIB
Kiri-kanan : Dekan FISIP UMM , Direktur Radar Malang , Guru Besar Ilmu Pemerintah UGM , moderator Diskusi Panel 'Mengawal Demokrasi Pemilukada Serentak Tahun 2018'. (Foto: Beni Humas)

BUDAYA kritis harus dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Budaya kritis yang dimaksud adalah sikap kritis terhadap fenomena demokrasi yang ada di Indonesia. 

Hal ini diungkapkan oleh Dr Rinekso Kartono M.Si selaku Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam forum Diskusi Panel bertema Mengawal Demokrasi Pemilukada Serentak Tahun 2018 di Aula BAU, Rabu (20/12). 

Hadir dalam acara tersebut mahasiswa FISIP dari berbagai program studi seperti Ilmu Komunikasi, Ilmu Pemerintahan, Hubungan Internasional, Kesejahteraan Sosial, Sosiologi dan juga aktivis Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Pada kesempatan tersebut, Rinekso memaparkan pentingnya memahami politik agar generasi muda dapat mengawal terselenggaranya Pemilukada 2018. Pemahaman terhadap politik yang baik dapat menghindarkan diri dari kegalauan demokrasi, seperti akan tetap pada demokrasi atau kembali layaknya saat reformasi.

“Mahasiswa FISIP itu adalah orang yang harusnya lebih tau politik,” ujar Rinekso.

Hadir dalam acara ini Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Purwo Santoso, MA yang memaparkan tentang pentingnya universitas melibatkan diri secara empatik dalam mengawal demokrasi. Purwo menguraikan saat ini mahasiswa perlu mengkritisi serta memposisikan diri kedalam demokrasi. 

"Mahasiswa juga harus siap dalam mendemokrasikan cara berpikir dengan mendefinisikan demokrasi sebagai persoalan yang sedang dihadapi,"tambahnya.

Di sisi lain, Kurniawan Muhammad selaku Direktur Radar Malang menyampaikan pembahasan berbeda,  yakni tentang peran media saat terlibat dalam arus demokrasi. Kurniawan menyebut, bahwa Pemilukada serentak 2018 ini menarik, istimewa dan juga rawan jika dibandingkan dengan  jilid sebelumnya. 

“Istimewa sebab melibatkan daerah di Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya, yaitu Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Papua,” terangnya.

Selain istimewa, Pilkada serentak juga disebut Kurniawan menarik karena diikuti oleh wilayah dengan jumlah penduduk yang besar seperti Sumatera Utara, Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan perkiraan jumlah pemilih 80-90 persen. Meski istimewa dan menarik, Kurniawan menguraikan bahwa Pemilukada kali ini juga rawan konflik horizontal, intervensi asing dan intervensi politik dari pusat. Disinilah menurutnya peran media sangat dibutuhkan. 

“Sebab itu peran media dalam Pilkada adalah menjadi netral dan independen, jadi klarifikator atas berita gaduh, hoax atau fitnah yang ada,” pungkasnya. (nim/sil)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image