MAFI Fest 2019: Sorot Isu Perceraian lewat Sinematografi

Author : Administrator | Sabtu, 13 April 2019 15:05 WIB
Pembukaan MAFI Fest 2019, Kamis (10/4). (Foto: Istimewa)

Pada tahun 2015, Kabupaten Malang menjadi daerah dengan angka perceraian tertinggi kedua di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian kelompok sinematografi Kine Club Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam garapan film produksi bersamanya, “Kisah dalam Ruang Gelap” di Gala Primere yang ditayangkan perdana pada perhelatan Malang Film Festival (MAFI Fest) 2019, Kamis (11/4).

“Perceraian kini menjadi isu yang paling dekat dengan masyarakat. Hal inilah mendasari terangkatnya tema sosial ini. Film ini mencoba menyampaikan bahwa perceraian bukan merupakan solusi satu-satunya yang bisa ditempuh,” ungkap Adik Fitria selaku produser. Rencananya, tahun ini Kine Club akan roadshow ke sepuluh titik di lokasi dengan tingkat perceraian tertinggi di Kabupaten Malang.

Tokoh bapak dan ibu dalam film yang disutradarai Hafidz Alamudi ini menceritakan  tentang harmonisasi kehidupan berumah tangga. Dikisahkan, sang istri rela menjadi tulang punggung keluarga karena keterbatasan fisik sang suami yang tuna netra. Sayangnya, kesediaan sang istri akhirnya membuat sang suami meminta perceraian karena merasa menjadi beban untuk keluarga terkhusus sang istri.

Baca juga: MAFI Fest 2019 Jadi Ajang Unjuk Gigi Sineas Muda Indonesia

Pengembangan cerita berlangsung selama 2 bulan. Dalam kurun waktu ini, survei  data dan wawancara dilakukan untuk memperkokoh landasan cerita. Menurut Hafidz, yang paling menantang adalah scene hujan dan saat pegambilan gambar di rel kereta api. “Dibutuhkan manajemen waktu karena damkar dan kereta api hanya memiliki waktu yang sangat singkat,” tutur Adik, mahasiswa Ilmu Komunikasi ini.

Sementara Direktur MAFI Fest Aliya Dwi Citra menyebut, Kine Club UMM terus konsisten memberikan ruang kepada sineas muda Indonesia dalam rangka mempertemukan filmnya kepada penonton melalui Malang Film Festival (Mafi Fest). Tahun ini, Mafi Fest 2019 kembali memberikan program Ruang Apresiasi untuk menjadi ruang gala premiere film produksi bersama (Prodber) Kine Klub UMM.

Selain pemutaran gala primere film produksi bersama, MAFI Fest mengundang salah satu film tamu bertema sosial, yaitu “Nyanyian Akar Rumput”. Sebuah film indie yang berkisah tentang seorang istri dan kedua anak dari aktivis pergerakan Widji Thukul dalam menjalani hidup, setelah suami dan ayah mereka dinyatakan hilang. Penayangan film disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Baca juga: Pakar Psikologi UMM: Pola Asuh Orang Tua Menjadi Penentu Karakter Anak

MAFI Fest tahun ini memiliki 4 kategori lomba, terdiri dari Fiksi Pendek Mahasiswa, Fiksi Pendek Pelajar, Dokumenter Mahasiswa dan Dokumenter pelajar. Jumlah film yang masuk tahun ini mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 477 film. Hanya akan tersisa 23 film yang lolos kurasi. Masing-masing pemenang kategori diumumkan sebagai juara pada malam penganugerahan, Sabtu (13/4).

Sejak tanggal 10-13 April, MAFI Fest juga diisi berbagai rangkaian acara yang tak kalah menarik. Adapun program non kompetisi yang diadakan diantaranya Malam Penghargaan, Sesi Malangan, Program Penayangan Khusus, Program Penayangan Perdana, Diskusi Umum dan Kelas Kritik. Acara dapat terselenggara dengan baik berkat dikerjasamakan dengan VIU Indonesia dan Pusbang Film Kemdikbud RI. (*/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image