Lagi, Kajur Bahasa Indonesia Raih Juara Nasional

Author : Humas | Kamis, 19 November 2009
 

Universitas Muhammadiyah Malang kembali meraih prestasi nasional. Kali ini menjadi Juara I penerima penghargaan Lomba Keaksaraan Tingkat Nasional dalam peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-44 di Cilegon, Banten, Selasa (8/9). Artikel Daroe Iswatiningsih yang dimuat di Malang Post 19 Juli 2009 berhasil menyisihkan wartawan Bernas Jogjakarta, Kompas, Republika, Harian Analisa Medan dan Majalah Genta. Artikel berjudul “Pendidikan Keaksaraan Untuk Pemberdayaan Petani” mengantarkan Daroe menerima piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Kali ini adalah kesempatan kedua bagi Daru, setelah tahun lalu juga memperoleh penghargaan yang sama.

Peringatan HAI ke-44 mengambil tema  Mewujudkan Pendidikan Keaksaraan sebagai Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Daroe memotret kondisi riil Indonesia sebagai negara Agraris. Sebagian besar petani dan mayoritas buta aksara dan miskin.

Ketua Jurusan Bahasa Indonesia memaparkan keluarga miskin di pedesaan sebagian besar adalah buruh tani dengan penghasilan antara Rp100- 400 ribu/ bulan. Menurut Deptan tahun 2006, buruh tani yang tidak lulus SD mencapai 35% (26 juta keluarga dari 104 juta) terdapat 36 juta orang yang tidak sekolah dan tidak tamat SD.

Menurut, ibu tiga anak ini tingginya tingkat buta aksara bisa berdampak pada rendahnya mentalitas, ketrampilan dan produktivitas petani. Daroe mencontohkan usaha yang berorientasi jangka pendek, hanya mengejar keuntungan dan belum memahami ranah bisnis yang luas merupakan wujud rendahnya mentalitas petani. “Selain itu, petani Indonesia kurang mengakses pengetahuan, teknologi dan informasi, sehingga kurang bersaing dengan negara lain”, ujarnya.

            “Pengembagan Model Pendidikan Keaksaraan Berwawasan Ketahanan Pangan (PK-BKP) bisa menjadi strategi untuk memberdayakan petani miskin di pedesaan,”ujarnya.

Strategi PK-BKP menekankan pada Warga Belajar (WB) agar memiliki ketrampilan membaca, menulis, berhitung dengan pendekatan kurikulum yang mengarah pada kebutuhan nyata petani yang diintegrasikan dengan kegiatan penyuluhan pertanian yang harus melibatkan kelompok tani atau organisasi petani sebagai mitranya. Tidak hanya itu, penyuka jus dan sayur segar ini menambahkan pentingnya keterlibatan penyuluh pertanian untuk mendorong pembelajaran efektif. “Pada akhirnya model PK-BKP dapat mendorong petani melek aksara,”pungkasnya.

            “Keberhasilan Daroe tidak terlepas dari sumbangsih yang diberikan sang suami, Sutawi, yang juga dosen Agribisnis UMM. Menurutnya, mereka sering berdiskusi dan saling mendukung. Tahun inipun, Daroe juga berhasil menyabet juara 1 penulisan. (rka)

 

 

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image