Komitmen Sebagai Kampus Pelopor Energi Baru Terbarukan, UMM Kembali Terima ASEAN Energy Awards

Author : Humas | Selasa, 30 Oktober 2018 09:03 WIB
Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd (kanan) menerima penghargaan langsung dari Sekjen ASEAN Lim Jock Hoi. (Foto: Istimewa)
UNTUK kesekian kalinya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat penganugerahan ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building) untuk Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa). Penghargaan diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. di Singapura hari ini, Senin (29/10). 
 
Rusunawa UMM dibangun pada tahun 2008 untuk mendukung Program Pengembangan Kepribadian & Kepemimpinan (P2KK) bagi mahasiswa baru UMM. Bangunan berkonsep hemat energi ini memiliki banyak ruangan besar dengan atap tinggi serta pintu utamanya dibiarkan terbuka. Tidak ada AC dan hanya bergantung pada sirkulasi udara alam. Sekira 90% penerangan bangunan menggunakan cahaya alami selama siang hari.
 
Pengukuran anemometer kawat dengan tiruan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD) menunjukkan bahwa laju kecepatan udara dalam ruangan pada bangunan ini adalah 0,6 m/detik dan suhunya adalah 26,5OC . Temperatur ini sesuai dengan persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007/MENKES/PER/ V/2001 (18 - 30OC) dan juga memenuhi persyaratan Standar ASHRAE 55
 
Pengukuran intensitas cahaya di ruangan pada bangunan ini adalah 567-765 lux. Hal tersebut memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007 / MENKES / PER / V / 2011 yang minimumnya 60 lux dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-6197-2011 yang minimumnya adalah 250 lux untuk kamar tidur dan 350 lux untuk kelas.
 
Rusunawa UMM sepenuhnya menggunakan sumber energi terbarukan yang disediakan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling I. Lokasinya berjarak 600 meter sebelah barat Rusunawa UMM. PLTMH Sengkaling I menghasilkan daya  total 100 KW. Cara kerjanya dengan memanfaatkan Sungai Brantas melalui saluran irigasi Sengakling I dan dijatuhkan dari ketinggian 18 meter untuk menggerakkan turbin dan generator listrik.
 
Rusunawa UMM menggunakan sekitar 23 KW, yaitu sebanyak 23% total kapasitas dari PLTMH Sengkaling I. Setiap tahun, Rusunawa UMM menggunakan daya sebesar 70,000 kWh. Jika faktor emisi koefisien untuk jaringan transmisi Jawa –Madura-Bali sebesar 0.891 t-CO2/kWh, maka dapat mengurangi gas emisi rumah kaca sebesar 62.37 t-CO2/tahun. 
 
"Selain berupa bangunan hemat energi, UMM memang telah lama berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar pada inovasi pengembangan energi alternatif, yakni sebagai kampus pelopor Energi Baru Terbarukan. Dan pada penganugrahan ini UMM adalah satu-satunya dari perguruan tinggi, selainnya dari perusahaan di wilayah ASEAN," kata Fauzan saat diwawancarai via telepon dari Marina Bay Sands, Singapura. Selain PLTMH I dan II yang ada dilingkungan UMM, melalui program pengabdian dalam mengembangkan PLTMH di Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
 
Pendirian PLTMH Sumber Maron terbukti berhasil. Pada tahun 2009, 1100 warga sekitar Sumber Maron masih mengandalkan energi listrik dan PLN. Sejak dibangun tahun 2014, jumlah warga yang menggunakan listrik yang bersumber dari PLTMH meningkat menjadi 1800. Dari situ, mulailah dibangun sarana dan prasarana pendukung, yaitu tempat wisata yang pada akhirnya memberi outcome positif bagi pembangunan desa. (Humas UMM)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image