Kaya Tanaman Obat, Perkuat Riset Fitofarmaka

Author : Humas | Kamis, 19 Maret 2015 15:18 WIB
ALAMI: Arboretum merupakan Kawasan konservasi tanaman yang menjadi salah satu sumber riset Fitofarmaka. (Rino/Humas UMM)

KEKAYAAN tanaman obat yang dimiliki Indonesia tak sebanding dengan riset ilmiah di bidang tersebut. Kebanyakan hasil kelola dari tanaman obat masih berbentuk resep tradisional yang tidak ilmiah. Karena itulah, riset fitofarmaka yang intens dikembangkan Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi sangat krusial dan strategis.

      Fitofarmaka adalah jenis obat alami yang telah melalui proses uji klinis pada manusia. Di Indonesia, kata kepala prodi Pendidikan Biologi UMM Dr Yuni Pantiwati MPd, tak banyak prodi pendidikan biologi yang intens mengembangkan riset fitofarmaka.

      “Selain karena keterbatasan pakar di bidang tersebut, proses penelitian hingga uji klinisnya juga tak mudah, karena membutuhkan sarana laboratorium yang memadai dan dana yang tak sedikit,” terangnya saat ditemui di kantor Prodi Biologi UMM, Kamis (19/3).

      Lantaran memiliki banyak pakar di bidang kesehatan, juga didukung alat berstandar internasional, Prodi Biologi UMM sejak 2005 tidak hanya mengembangkan riset di bidang tersebut, tapi kurikulumnya juga memuat mata kuliah Fitofarmaka. “Menariknya, mata kuliah ini menjadi mata kuliah favorit mahasiswa,” ungkap Yuni.

      Salah satu alat milik Prodi Biologi untuk uji ilmiah yaitu Scanning Electron Microscope (SEM) yang digunakan untuk mengetahui anatomi tanaman secara detail. “Harga alat ini mencapai hampir dua miliar. Kita mendapat alat ini langsung dari Hitachi. Mereka memberikan hibah pada lima kampus di Indonesia, salah satunya UMM,” tutur Yuni.

      Di area kampus, Prodi ini memiliki Arboretum yang merupakan kawasan konservasi tanaman sebagai sumber belajar dan riset mahasiswa serta dosen di bidang fitofarmaka. Dengan berbagai keunggulan tersebut, kini Prodi Biologi UMM memiliki kemitraan strategis dengan Guangxi University, Cina. UMM dan Guangxi berencana mamanfaatkan khasiat buah lo han kuo dan hewan melata tokek.  

      Yuni menambahkan, riset fitofarmaka juga memiliki keterkaitan dengan visi Rumah Sakit UMM yang memadukan pengobatan modern Barat dengan pengobatan Timur, khususnya ilmu kedokteran China dan pengobatan alternatif. (han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image