KASAD TNI: Lawan Proxy War dengan Pancasila

Author : Humas | Senin, 06 April 2015 20:36 WIB
AJAK BERDIALOG: KASAD TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berada di tengah-tengah mahasiswa untuk bisa berdialog dengan mereka.

BANGSA ini harus siap menghadapi berbagai tantangan jika ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo di hadapan lebih dari 8000 mahasiswa dalam stadium general di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (6/4).

      Gatot mengungkapkan, perang yang akan segera dihadapi bangsa ini yaitu perang energi. Berbagai gejala yang mengarah pada perang tersebut bahkan sudah mulai tampak, salah satunya melalui perang proxi (proxy war).

      “Proxy war adalah perang dengan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti perang secara langsung untuk menghindari resiko kehancuran fatal,” paparnya.

      Ia memisalkan, lepasnya Timor Timur dari Indonesia merupakan contoh nyata proxy war. Katanya, Australia kala itu membantu Timor Timur untuk lepas dari Indonesia karena ingin menguasai cadangan minyak yang melimpah di daerah tersebut. “Xanana Gusmao waktu itu mengonfirmasi langsung bahwa hal ini benar. Bahwa Australia berada di balik lepasnya Timor Timur,” kata Gatot.

      Agar negara ini tak mudah terprovokasi, Indonesia menurutnya sudah mempunyai modal yang kuat yaitu ideology Pancasila. “Kita punya ideologi yang khas, yang tidak ditiru negara manapun. Kita punya cara beragama yang diatur dengan ketuhanan Yang Maha Esa. Kita punya cara bersosial yang diatur dalam keadilan yang adil dan beradab. Kita punya semangat kebangsaan dengan persatuan Indonesia. Kita punya cara bernegara dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan semuanya bermuara kepada tujuan nasional kita, untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

      Sebagai penutup, Gatot menyemangati mahasiswa yang memenuhi hall UMM Dome untuk aktif membangun bangsa dengan ilmu yang dipelajari selama kuliah. “Ilmu saja tidak cukup. Harus dibekali keimanan agar ilmu tersebut tidak disalahgunakan,” tambahnya. (Humas UMM)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image