Islamic University in Uganda Belajar Tata Kelola Perguruan Tinggi ke UMM

Author : Humas | Sabtu, 08 Desember 2018 10:01 WIB
Jajaran Rektorat UMM dan UIUI berfoto bersama usai diskusi, kurang lebih 2 jam, terkait tata kelola perguruan tinggi. (Foto: Aan/Humas)
Wakil Rektor Islamic University in Uganda (IUIU), Ismail Simbwa Gyagenda, berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (7/12) kemarin. Kunjungan ini bertujuan mengulik rahasia UMM memajukan universitasnya. Lawatan ini diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. 
 
Ismail mengeluhkan IUIU yang kekurangan sumber dana dan pengajar. Satu-satunya sumber dana yang diperoleh IUIU dari SPP Mahasiswa. “Kami hanya mempunyai 9.000 Mahasiswa, kebanyakan dari mereka juga tidak mampu. Maka kami kesulitan untuk bertahan,” jelas Ismail. 
 
Dijelaskan Ismail, IUIU adalah satu-satunya universitas Islam di Uganda. Sehingga, perhatian Pemerintah kepada IUIU sangat minim. Dana bantuan juga jarang datang. Untuk diketahui, peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Uganda hanya berada di urutan 157 dari 182 negara.
 
“Di UMM Mahasiswa hanya membayar empat juta saja tiap semesternya,” jelas Fauzan yang membuat terkejut Simbwa karena dinilai teramat murah. Namun begitu Fauzan menjelaskan, 4 juta sudah terbilang mahal, dikarenakan biaya hidup di Indonesia yang cukup murah.
 
Namun, Fauzan menyatakan bahwa Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bisa ditekan karena UMM banyak memiliki unit bisnis. Pemasukan dari unit bisnis ini yang nantinya digunakan untuk meringankan biaya operasional perguran tinggi. Selain itu, unit bisnis milik UMM juga dijadikan laboratorium terapan bagi mahasiswa. 
 
Fauzan juga menjelaskan bahwa UMM sedang membuka banyak beasiswa untuk negara berkembang. “Di tahun ini ada 300 Mahasiswa asing yang belajar di UMM, sebagiannya melalui beasiswa,” ujar Fauzan. Fauzan menyatakan, secepatnya akan dibuka beasiswa sampai Afrika, sehingga IUIU bisa bergabung. 
 
Selain menawarkan beasiswa di masa depan, Fauzan memberi jalur kerjasama dengan rekan kerja sama UMM. Seperti Erasmus Mundus dan Darmasiswa. “Pertemuan ini merupakan awal dari kerja sama kedua belah pihak untuk saling membangun bangsa melalui pendidikan,” tandasnya. (usa/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image