Ini Harga yang Harus Dibayar Agar Indonesia Tetap Ada di 2045

Author : Humas | Selasa, 09 April 2019 16:05 WIB
Alissa Wahid (kiri) menerima cinderamata Suluh Kebangsaan dari sang adik Inayah Wahid. (Foto: Rino/Humas)

Alissa Wahid, putri presiden keempat RI Gus Dur menyebut, pekerjaan rumah masyarakat Indonesia tidak mudah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tetapi sangat mungkin untuk diwujudkan. “Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” tegasnya, Selasa (9/4) pagi.

Hal ini disampaikan Alisa dalam kesempatan menjadi panelis pada gelaran Dialog Kebangsaan di Aula GKB IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir tokoh lainnya, Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA., Savic Ali, serta putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid.

Untuk Indonesia bisa tetap bertahan hingga di usia seratus tahunnya, yakni di tahun 2045, ada harga yang harus dibayarkan. “Mau nggak kata Indonesia hilang dari peta? Tapi mau nggak membayar harganya supaya kata ‘Indonesia’ itu tetap ada di dalam peta. Harganya adalah, sebagai warga negara, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” bebernya dihadapan ratusan peserta gelaran sehari ini. 

Salah seorang mahasiswa UMM menyalami Alissa Wahid usai dirinya sebagai pembicara di Dialog Kebangsaan. (Foto: Rino/Humas)

Baca juga: Pesan Mahfud MD Buat Milenial UMM: Mari Ikut Wujudkan Indonesia Emas 2045

Selain itu, sambungnya,  ketika seseorang mau berkembang dan tumbuh menjadi orang yang mandiri dan berdikari. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kalau Indonesia juga ingin besar, maka manusianya juga harus sejahtera. “Sejahtera itu harus menjadi bagian dari kita. Yang mandiri dan berdikari. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar, kalau warganya mampu menyangga dirinya sendiri,” ujarnya.

Tak cukup itu, pelibatan generasi penerus bangsa untuk menjadikan Indonesia sejahtera juga mesti dilakukan. “Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” tegasnya.

Generasi milenial yang hidup di masa teknologi informasi berkembang pesat, membuat generasi ini memiliki keunggulan. Tahun 2012, diceritakannya, kita dikagetkan dengan kasus Satinah, TKI yang terancam dihukum pancung jika tidak mampu membayar diyat sebanyak 21 milyar. Pemerintah Indonesia ketika itu hanya menyanggupi sembilan milyar saja. Tentu belum cukup,” bebernya.

Baca juga: Ke Amerika, Ken Dedes UMM Ini Siap Harumkan Nama Indonesia

Netizen Indonesia, anak-anak muda milenial ketika itu, berinisiatif saweran agar hukuman itu tidak terjadi. Jumlah yang terkumpul 2,8 milyar dalam kurun waktu sekian hari saja. “Itu kekuatan dunia digital dan itu kekuatan anak-anak muda Indonesia. Hal ini juga terjadi pada 2014, saat pengajuan perluasan gedung KPK. Lagi-lagi karena kekuatan netizen, kebijakan itu akhirnya disetujui,” paparnya.

Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya. (can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image