Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Pesan Ahmad Dahlan yang Diamalkan Bu Mei

Author : Humas | Selasa, 14 Mei 2019 13:57 WIB
Mei Suciptowati (Foto: Mirza/Humas)
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” menjadi mantra ampuh Mei Suciptowati menghabiskan lebih dari seperempat abadnya mengabdi di Kampus Putih, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dedikasi dan keiklasan Bu Mei, begitu ia disapa, menuntaskan tugasnya sebagai tenaga kependidikan tetap di UMM dengan predikat ‘khusnul khatimah’.
 
Ulet dan teliti, itulah karakter yang tercermin dari seorang Bu Mei. Tepat 26 tahun 6 bulan sudah ia mengabdi di perguruan tinggi yang berjargon “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa” ini. “Pengabdian yang didasari oleh keikhlasan akan berbuah berbagai rezeki yang baik,” ungkap Bu Mei di hari terakhirnya aktif sebagai tenaga kependidikan tetap di kesekretariatan Rektorat UMM, sekaligus di Kampus Putih (14/5). 
 
Tulusnya Bu Mei dalam bekerja terpancar dari sorot jernih matanya saat membagikan ceritanya. Perempuan yang menamatkan pendidikan tingginya di Administrasi Bisnis ini memulai karirnya di UMM pada tahun 1992. Ia beberapa kali berpindah instansi yang terang berbeda dengan bidang minatnya. “Saya kira itu tantangan, saya suka itu,” tuturnya. Ia pernah empat tahun di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM.
 
Selama empat tahun itu, Bu Mei berusaha memberikan kinerja terbaiknya. Kontribusi yang tak boleh dilupakan dari perempuan kelahiran Blitar, 4 Mei 1963 adalah papan jadwal yang saat ini ada di bagian Tata Usaha FEB. Dulu, terangnya, belum ada penjadwalan yang rinci dan efektif. Mei bersama tiga orang karyawan lainnya menggagas sistem penjadwalan yang lebih efektif yakni melalui papan.
 
Baca juga: LSP UMM Jadi Percontohan Penerima Hibah Retooling Vokasi Ristekdikti
 
Papan jadwal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah karya monumental yang banyak diadaptasi oleh fakultas-fakultas lainnya di UMM, karena dinilai lebih efektif. “Saya belajar dari nol terkait penjadwalan,” kata Bu Mei. Tantangan bagi Bu Mei adalah hal yang mutlak bagi seorang staf kependidikan. Sebagai seorang pegawai pula, pesannya, harus memberikan terobosan-terobosan yang kreatif serta inovatif.
 
Selain pernah menjadi tenaga kependidikan bidang keadministrasian FEB UMM, Bu Mei juga pernah di Biro Administrasi Umum (BAU), dan pada 2008 sampai 2019 di Rektorat UMM. Ia diminta Rektor Muhadjir Effendy secara langsung kala itu. Tugasnya, melayani tamu-tamu Rektor dalam hal hidangan ramah tamah. “Saya jabarkan sendiri bagaimana melayani tamu yang baik itu, pokoknya terbaik,” jelasnya. 
 
Pelayanan yang diberikan Bu Mei bahkan diakui oleh Menteri Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan (periode 2009-2014) dalam kesempatan bertandang ke UMM. Bu Mei sampai mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih khusus dari sang Menteri. “Pak Menteri mencari-cari saya ke dapur untuk mengucapkan terima kasih karena sudah dijamu dengan hidangan kesukaannya,” ungkapnya sembari tertawa kecil.
 
Baca juga: Tes Masuk Gelombang 1 UMM Didominasi Camaba Kedokteran
 
Rentang waktu pengabdian yang sangat panjang tersebut, Bu Mei membagikan kunci keistiqomahannya. Baginya, ikhlas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan adalah hal yang paling penting. “Rezeki Allah yang mengatur, pokoknya ikhlas seperti perkataan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang tentunya sudah sangat kita hapal, Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ungkapnya. 
 
Puluhan tahun Mei mengabdi di UMM, ia telah melayani Rektor Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Rektor Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. hingga Rektor Dr. Fauzan, M.Pd UMM saat ini. Ia mengaku tak mengharapkan banyak hal dari UMM. Niatnya adalah mengabdi, karena ia mengikuti pertumbuhan UMM dari kampus dua hingga memiliki kampus tiga. Ia berharap, UMM semakin baik dan berkemajuan. (mir/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image