Hangat, Bedah Buku "Jati Diri dan Profesi TNI"

Author : Administrator | Sabtu, 31 Oktober 2009 00:00 WIB

Berita UMM

Keprihatinan terhadap kesejahteraan dan kelengkapan alutsista (alat utama sistem senjata) militer kita terus mengemuka di berbagai diskusi. Di kampus Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), topik ini juga menghangat ketika buku “Jati Diri dan Profesi TNI, Studi Fenomenologi” karangan Dr. Muhadjir Effendy, rektor UMM, Sabtu (31/10), dibedah oleh para pakar. Mereka adalah Prof. Dr.Indria Samego (LIPI), Prof. Dr. Hotman M. Siahaan (Pascasarjana Unair) dan Prof. Dr. Bahtiar Effendi (FISIP UIN Syarif Hidayatullah).

Sebelum dibedah, buku yang diangkat dari disertasi doktoral Muhadjir Effendy tahun 2008 itu dikomentari Pangdam V Brawijaya Mayjen Suwarno yang dibacakan Asisten Perencanaan Letkol I Made Siangan. Pangdam memberi apresiasi pada buku itu, namun tetap memberi beberapa catatan. Antara lain, belum jelasnya perbedaan antara jati diri TNI dengan kode etik yang bersifat responsibility daripada corporateness.

Selain itu, lanjut Pangdam, memang diakui keterbatasan alutsista dan kesejahteraan prajurit sangat menonjol. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa ketika dibutuhkan, TNI senantiasa maju paling cepat dan terdepan tanpa menunggu anggaran dana. “Prajurit TNI sudah berada di masjid Raya untuk bekerja sesaat setelah tsunami meluluh lantakkan Aceh tanpa menunggu dari mana dananya. Ini tentu berbeda dengan pihak lain yang masih harus berkoordinasi soal anggaran,” kata Pangdam.

Di sisi lain, Hotman memuji keberanian Muhadjir melakukan penelitian ini. Sejak awal, sebagai promotor, dia sudah memperingatkan tidak mudah melakukan riset di kalangan TNI. Apalagi metode yang digunakan adalah fenomenologi yang memebutuhkan wawncara mendalam dan keterlibatan dalam diskusi panjang. “Tapi toh akhirnya selesai juga walau perlu waktu cukup lama. Hasilnya juga sangat baik karena bisa memberi gambaran dari dalam diri perwira menengah mengenai jati diri TNI,” kata Hotman.

Menanggapi keynote speech dan isi buku itu, Indria Samego turut memprihatinkan nasib TNI pasca reformasi. Banyaknya tuntutan agar tentara kembali ke barak agar tidak berpolitik dan berbisnis dinilai sesuatu yang teramat sulit. “Bagaimana mau kembali ke barak kalau baraknya tidak ada. Barak itu kan tempat para prajurit, itupun terbatas. Bagaimana dengan para perwira, para jenderal?” tanya profesor penelitian LIPI ini.

Serupa dengan pendapat itu, Bahtiar menambahkan, semua itu karena memang sejarah militer di Indonesia memang tidak sama dengan militer di negara lain, seperti Amerika. Di Indonesia, tentara muncul dari sipil yang memiliki jiwa kejuangan yang tinggi melawan penjajah. Bahtiar memaklumi jika TNI tetap ingin mempertahankan Dwi Fungsi, karena memang itulah sejarah militer Indonesiansejak semula.

TNI, kata Bahtiar, memang menyatu dengan masyarakat. Tidak perlu barak yang memisahkan mereka dengan masyarakat, apalagi dikembalikan ke barak. Dari situlah militer kita kuat karena menyatu dengan politik dan masyarakat.

“Saya yakin, kekuatan SBY tidak semata-mata dia sipil sekarang tetapi karena dia mantan militer. Beberapa presiden kita dari sipil malah tidak berumur panjang,” kata Bahtiar.

Diskusi yang juga dihadiri mantan Mendiknas Prof. A. Malik Fadjar itu berlangsung hangat karena setiap pembicara memiliki perspektif yang berbeda. Namun, secara umum, pembicara memberi apresiasi pada karya Muhadjir yang siap membuat buku baru dari hasil kritik, masukan dan pengolahan data yang belum tercantumkan dalam buku itu. “Mudah-mudahan buku ini dapat mengiusnpirasi bagi para calon doktor untuk serius dengan metodologi,” harap Muhadjir. (nash)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image