Haedar Nashir: Adil dan Ihsan, Perekat Hidup Berbangsa dan Bernegara

Author : Humas | Kamis, 07 Februari 2019 17:52 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashirm M.Si. (Foto: Rino/Humas)

PERGOLAKAN sosial-politik di Indonesia pasca reformasi membawa sedemikian banyak problematika. Hal tersebut disampaikan Dr. Haedar Nashir M.Si, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada agenda Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2).

Menurut Haedar, pasca reformasi ada dua kecenderungan pemikiran yang mengeras. Satu mengeras ke kanan, dan satunya mengeras ke sebelah kiri. Situasi ini akhirnya melahirkan pandangan keagamaan dan politik yang keras serta serba absolut. “Saat ini keduanya menutup ruang toleransi, dialog dan perbedaan,” kata Haedar.

“Islam itu Ad-Diinurrahmah, agama penuh dengan kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam itu begitu kaya. Bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga alam, hewan dan tumbuhan, disamping kepada Allah,” jelas Haedar. Ketika kasih sayang ini tidak digunakan dalam kehidupan beragama, maka akan kembali ke masa jahiliyah.

Ujian bersikap adil dan ihsan kini hadir di depan kehidupan setiap insan beriman di negeri ini. Kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan saat ini selain memerlukan sikap adil yang autentik, juga memerlukan nilai mulia ihsan. “Allah memerintahkan kaum beriman untuk berbuat adil dan ihsan di surat an-NAhl ayat 90,” katanya.  

Para mubaligh, sambung Haedar, ketika berkhutbah bahkan selalu mengutip ayat al-Quran itu sebagai pengunci pesan khutbah dan tausyiyah. “Sebarkanlah nilai adil dan ihsan itu sebagai perekat hidup berbangsa dan bernegara sebagai cermin risalah Islam rahmatan lil-‘alamin atau rahmat bagi semesta alam,” ungkap Haedar.

Dalam konteks menggelorakan “Beragama yang Mencerahkan”, kata Haedar, seganap pimpinan Muhammadiyah penting menyuarakan sekaligus mempraktikan pesan-pesan keislaman yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Peran tarjih dan tabligh secara khusus penting untuk dioptimalkan dan dininamisasi.

Dipesankan juga Haedar, kepada semua angggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah untuk melandasaan dan membingkai pandangan-pandangan keislaman pada orientasi Islam yang mencerahkan dengan merujuk pada Manhaj Tarjih. Yakni mengembangkan pendekaatan Bayani, Bunrani, Irfani secara melintasi.

Di tengah lalulintas dan dinamika paham keagamaan yang beragam dan tidak jarang ekstrem, sambung Haedar, Muhammadiyah dituntut perannnya sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang mencerahkan. Dalam hal berdakwah tentu para mubaligh dan anggota Muhammadiyah penting untuk menggelorakan dakwah yang mencerahkan.

Hal ini dilakukan sebagaimana misi gerakan pencerahan dalam Muhammadiyah. Dakwah niscaya dilakukan dengan hikmah, mauidhat hasanah, dan bermujadalah dengan cara terbaik. “Sesuai surat Al-Nahl ayat 125, sebagaimana menjadi prinsip dan cara berdakwah yang diajarkan Allah dan dipraktikan Rasulullah,” bebernya.

Dakwah yang serba menghardik, memvonis, lebih-lebih yang memusuhi dan takfiri bukanlah dakwah yang mencerahkan. “Berdakwahlah sebagaimana Nabi menyeru untuk menyempurnakan akhlaq manusia disertai uswah hasnah serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan semesta,” tandasnya. (mir/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image