Empat Kali Studi Banding ke UMM, USM Tetap Ingin Kembali

Author : Humas | Sabtu, 21 Februari 2015 08:26 WIB
STUDI BANDING: Dari kiri, Pembantu Rektor II UMM, Drs. Fauzan, MPd. Wakil Rektor I USM Dr Supari ST MT dan Wakil Rektor III Iswoyo SPt MP saat melihat video profile UMM lewat film pendek diaula ruang sidang senat.(18/2)

UNTUK keempat kalinya rombongan pejabat teras Universitas Semarang (USM) melakukan studi banding ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (19/2). Rombongan sejumlah 30 orang yang terdiri dari pejabat struktural ini dipimpin langsung oleh Wakil Rektor I USM Dr Supari ST MT dan Wakil Rektor III Iswoyo SPt MP.

Supari mengakui sudah yang keempat kalinya USM studi banding ke UMM dalam waktu berdekatan. Meski demikian pihaknya merasa masih banyak yang perlu dipelajari dari kampus peraih Akreditasi Intitusi A ini.

“Kita sama-sama kampus swasta, dan UMM ini kampus swasta yang terakreditasi A, jadi layak kami belajar banyak dari UMM,” ungkap Supari di hadapan Pembantu Rektor II UMM, Drs. Fauzan, MPd.

Kali ini, USM lebih berdiskusi banyak tentang pengembangan bisnis universitas. Seperti diketahui UMM mengembangkan berbagai unit bisnis untuk menopang finansial kampus agar kualitas universitas tidak terlalu menggantungkan dirinya pada pembayaran dari mahasiswa.

“Sebagai kampus swasta, harus diakui jumlah mahasiswa menentukan berapa banyak dana yang diperoleh. Namun ke depan, ketergantungan itu harus dikurangi dengan mengembangkan income center,” kata Fauzan.

UMM, kata Fauzan, akan mengintergrasikan semua unit bisnis ini ke dalam semacam holding company di bawah universitas. Seluruh unit bisnis tersebut dapat melayani masyarakat dalam satu paket. Dicontohkan, tamu studi banding nantinya harus menginap di hotel UMM Inn, mengisi bensin di SPBU UMM, makan siang atau malam di Sengkaling Food Festival, berwisata ke Taman Rekreasi Sengkaling, bila sakit berobat di Rumah Sakit UMM yang makanannya disuplai dari makanan organik UMM Farm. Jika motor atau mobilnya mogok, maka bisa diservis di bengkel otomotif UMM.

“Itu idealnya. Tapi kita masih menata dulu secara internal agar semua profit center itu lebih profesional. Dalam waktu dekat Sengkaling, misalnya, akan kembangkan dengan konsep Edu Park yang terintegrasi dengan lab-lab yang ada di kampus,” ujar Fauzan.

Konsep itu tak pelak membuat USM kagum. Pertanyaan yang muncul dari kalangan mereka adalah bagaimana mengelola unit bisnis tersebut tanpa mengganggu urusan akademik. Di samping itu, bagaimana hubungan yayasan dengan universitas dalam mengelola unit bisnis itu. Termasuk bagaimana UMM melakukan efisiensi.

Menjawab berbagai pertanyaan itu, Fauzan mengaku di UMM memiliki corporate culture yang khas. UMM tidak terlalu berorientasi pada struktur tetapi pada fungsi. Semua bagian di UMM adalah penting sehingga harus dihargai. Namun demikian, kontrol tetap diberikan walau kontrol terkuat justru dari lingkungan sosial tempat para karyawan bekerja.

“Kami menganut manajemen sentralistik untuk urusan administrasi, keuangan dan umum. Misalnya, di UMM hanya ada satu rekening dan tidak mengenal rekening yayasan atau apa. Semua terintegrasi dengan sistem online,” terang Fauzan.

Usai dialog, rombongan USM mengunjungi berbagai unit sesuai tujuan studi bandingnya. Supari berharap UMM tidak bosan menerima kunjungan USM karena ternyata semakin hari semakin banyak yang ingin dipelajari. (zul/nas)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image