Dosen Peternakan UMM: Bioteknologi, Solusi Ketahanan Pangan dan Pelestarian Lingkungan

Author : Humas | Jum'at, 20 September 2019 10:16 WIB
Prof. Bambang Sugiharto saat ditemui di BAU UMM menjadi pemateri (Foto: Mirza/Humas)
Ketahanan pangan menjadi topik yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Tidak hanya di Indonesia saja, ketahanan pangan juga kerap kali menjadi pembahasan yang serius di kancah Internasional. Untuk itu mengharuskan adanya peningkatan hasil pangan, baik dari pertanian maupun peternakan. 
 
Akan tetapi, peningkatan hasil pangan tersebut tidak dapat menyaingi tingkat pertumbuhan populasi penduduk setiap tahunnya. Oleh karena itu, dikhawatirkan pada masa mendatang, akan mengalami kekurangan pangan.
 
Berbagai cara dilakukan untuk menunjang ketahanan pangan. Salah satunya dengan inovasi teknologi untuk memecahkan kekurangan pangan, yaitu melalui bioteknologi. U.S. Embassy Jakarta bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar “Biotechnology Youth Outreach” di Aula Biro Administrasi UMM (18/09).
 
Baca Juga: Harapan lulusan PPG UMM yang Mengajar di Pelosok Negeri
 
Prof. Bambang Sugiharto, Director of Indonesian Biotechnology Information Centre dalam presentasinya membahas mengenai Agricultural Biotechnology. Ia mengungkapkan, keuntungan bioteknologi tanaman tersebut tidak hanya untuk menyediakan kesediaan pangan yang lebih banyak.
 
“Pengembangan bioteknologi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, serta kualitas dan nilai nutrisi pada makanan. Bioteknologi sendiri juga sejalan dan mendukung pelestarian lingkungan. Sehingga Bioteknologi bisa sebagai solusi ketahanan pangan,” sebut Bambang.
 
Sejalan dengan Bambang, Dr. Aris Winaya, M.Si, dosen Peternakan UMM mempresentasikan pemanfaatan bioteknologi dalam upaya konservasi hewan ternak. Tujuannya agar masyarakat dapat mempertahankan plasma nutfah agar tidak punah.
 
Baca Juga: UMM Tuan Rumah Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional 2019
 
Untuk memproteksi hewan lokal yang menjadi potensi di Indonesia, bisa dilakukan degan mengidentifikasi, mengkarakterisasi serta memonitor hewan-hewan lokal yang dirasa terancam punah. Selain itu, penggunaan dari ternak lokal harus dilakukan secara berlanjut, dan tidak berhenti sehingga gen tetap tersedia dalam jangka waktu yang lama. Material sampel genetik harus cukup untuk disimpan dalam rangka memastikan keamanan gen unik lokal yang terancam punah.
 
“Kita juga perlu mengembangkan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang mendukung perlindungan genetik sebagai strategi untuk tetap menjaga keunikan genetik hewan-hewan lokal,” ujar Aris. 
 
Menurut Aris, kearifan lokal merupakan strategi yang cukup jitu untuk menjaga genetik dikarenakan Indonesia yang masih menghormati kearifan lokal yang digagas oleh leluhur mereka. Dengan begitu penjagaan genetik dilakukan oleh segala penjuru masyarakat. (bel/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image