Di Era Industri 4.0, Pustakawan Juga Harus Melek Teknologi

Author : Humas | Minggu, 27 Januari 2019 15:37 WIB
Salah satu penyampaian mater. (Foto: Nabella/Humas)
SIAPA bilang menjadi pustakawan itu pekerjaan mudah? Di era Industri 4.0 ada syarat khusus yang mesti dipenuhi untuk menjadi seorang pustakawan. Tak sekedar mengurus buku dan gedung perpustakaan saja, melainkan juga mesti paham teknologi.
 
Demikian ditegaskan Tulus Winarsunu Koordinator Asisten Khusus Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat membuka kegiatan E-resources and Antiplagiarism Workshop Series, Jumat (25/1).
 
Acara yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur ini dihadiri 84 perwakilan dari universitas negeri dan swasta. Mereka semua tergabung dalam keanggotaan FPPTI Jawa Timur.  
 
Menurut ketua PPTI Jawa Timur, Amirul Ulum, perkembangan perpustakaan sebagai pusat literasi tidak dapat dipisahkan dari peran pustakawan. Keberadaan kinerja pustakawan di dalam suatu perpustakaan memegang peranan yang penting. 
 
“Karenanya, potensi setiap sumberdaya manusia dalam perpustakaan harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknnya, agar mampu memberikan hasil yang maksimal. Terlebih dalam pemanfaatan akses yang dilanggan,” ungkap Amirul
 
Disamping itu, sambung Amirul, pustakawan juga harus bisa meningkatkan dan pemberdayaan e-journal, ebook serta penggunaan plagscan atau alat pendeteksi plagiasi untuk mendukung publikasi karya ilmiah. 
 
Mulai April 2018, FPPTI Jawa Timur berlangganan konsorsium e-journal, ebook dan antiplagiarism yang terdiri dari Bidang Ekonomi dan bisnis, Bidang Kesehatan, Bidang Teknik dan Bidang Humaniora serta aplikasi plagscan untuk deteksi plagiarism.
 
Workshop ini terdiri dari empat sesi yang terdiri dari narasumber berbeda. Yaitu Irawan Sukardi (E-journal Emerald), Dwi Janto Suandaru (E-journal Proquest dan PlagScan), Okkie S. Budiman (E-journal Gale), dan Jona Giovani (E-Books Cambridge).
 
Senada dengan Tulus, menurut Kepala Perpustakaan UMM Asep Nurjaman, di era Industri 4.0 ini pustakawan harus mengerti bagaimana beradaptasi dengan teknologi dengan baik. Sehingga mahasiswa bisa mengakses buku di mana saja. 
 
UMM sendiri sudah memperhatikan perkembangan E-Resourch agar kedepannya mampu meningkatkan akses dan layanan. “Diharapkan UMM mampu beradaptasi dalam perubahan yang terjadi,” tandas Asep. (bel/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image