Daya Tarik UMM bagi Warga Asing Menguat

Author : Humas | Sabtu, 28 Februari 2015 13:13 WIB
DI MINATI: Mahasiswa  dan dosen asing tahun ini berduyun-duyun datang kekampus UMM untuk menjalin kerjasama, UMM salah satu kampus swasta yang sering dikunjungi oleh mahasiswa dan dosen asing dari berbagai negara di dunia. 

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) semakin menarik bagi mahasiswa dan dosen asing. Buktinya, awal tahun ini mereka berduyun-duyun datang ke kampus ini untuk melakukan kegiatan bersama mahasiswa dan dosen UMM maupun masyarakat lokal di Malang dan sekitarnya. Demikian juga mahasiswa dan dosen UMM yang melakukan studi dan pemagangan di berbagai negara juga meningkat.

Rektor UMM, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, memang mendorong agar kerjasama internasional semakin luas dan terealisasi dengan baik, tak sekedar berhenti di naskah kerjasama. “Sudah saatnya kita memperkuat kepercayaan negara lain bahwa kita bisa dan berprestasi, kita harus raih pengakuan internasional itu,” kata rektor sebelum memberangkatkan tim kreator mobil berbahan bakar ethanol FT UMM ke ajang internasional Shell Eco-Marathon Asia (SEMA) 2015 di Manila, Filipina, Sabtu pekan lalu.

Dalam waktu berdekatan dalam bulan Februari, berbagai Prodi dan Fakultas di UMM juga telah mengirim mahasiswa dan dosennya ke berbagai negara. Mereka mengikuti program pertukaran mahasiswa dan dosen untuk mempeluas pengalaman internasional. Mereka antara lain dari FISIP, FEB, Fikes, FH, FKIP bahkan staff Rumah Sakit UMM.

“Ini bagian dari magang balasan, karena mereka pernah ikut sit-in maupun magang di kita,” ungkap Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep. Sp. Kom saat memberangkatkan staf dan mahasiswanya ke Thailand, Taiwan dan Filipina.  

Di sisi lain, setelah akhir tahun lalu 25 mahasiswa asal Singapura mengikuti program Learning Express, pekan lalu 16 orang dari 11 negara datang ke UMM untuk program internship. Selama minimal satu semester, mereka akan belajar bahasa Indonesia dan menjadi volunteer membantu mengajar berbagai mata kuliah di kelas-kelas reguler. Sebelas negara asal internship itu adalah Uzbekiztan, Itali, Prancis, Slovakia, Venezuela, Romania, Hungaria, Polandia, Ukraina, Spanyol dan Portugal.  Sedangkan melalui AISEC, ada delapan orang yang berasal dari Swiss, Iran, Slovakia dan Pakistan.

Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Suparto, menerangkan sebagian besar peserta internship adalah orang yang tadinya berkenalan dengan mahasiswa UMM yang dikirim ke berbagai negara dalam program pertukaran mahasiswa. Sebagian yang lain tertarik dengan tawaran UMM melalui website.

“Mereka punya motivasi karena di Eropa para lulusan Magister akan diterima kerja jika sudah melakukan internship di luar negeri. Sedangkan di Uzbekistan lulusan Magister yang magang di luar negeri selama 3 tahun dapat melanjutkan S3 hanya dengan menulis disertasinya,” terang Suparto.

Sementara itu tindak lanjut Learning Express dengan Singapore Politechnic akan berlanjut dan ditambah dengan peserta dari Kanazawa Technical College Jepang awal Maret ini. Sebanyak 25 mahasiswa Singapura dan 16 mahasiswa Jepang didampingi mahasiswa UMM akan melakukan pengabdian di Batu. Uniknya, mereka akan bertindak seperti mahasiswa KKN di Indonesia, yakni mendampingi masyarakat mengembangkan potensi UKM di desanya. Antara lain akan mengembangkan teknologi kripik, permen susu, ternak cacing, dan tingting jahe.

            Program Pre-service Training bagi volunter asal Amerika Serikat juga berlanjut. Pertengahan Maret ini 67 warga AS akan menjadi bagian dari UMM untuk mengikuti pelatihan selama 10 minggu sebelum diterjunkan ke pelosok-pelosok untuk mengajar di sekolah-sekolah. Program ini merupakan kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu berjalan sukses.

            Suparto menjelaskan ada dua skema baru kerjasama UMM dengan luar negeri, yakni Tricities Program dan Erasmus Plus. Tricites adalah pertukaran mahasiswa dalam belajar bisnis bersama antara mahasisiwa dari UMM (Indonesia), Ho Ci Min (Vietnam), dan Bangkok (Thailand). “Ini khusus mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) untuk magang di berbagai regulasi industri dan bisnis di suatu negara untuk mengembangkan industri dan bisnis di negara asalnya. Misalnya belajar ekspor-import,” tutur Suparto seraya menjelaskan kesiapan UMM menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

            Sedangkan program Erasmus Plus berbeda dengan Erasmus Mundus yang sudah berjalan lebih dulu di UMM. Jika Erasmus Mundus berupa pertukaran mahasiswa dan dosen UMM dengan konsorsium kampus-kampus di Eropa, maka Erasmus Plus lebih pada pertukaran antar-universitas (U to U). Hingga saat ini masih tiga universitas yang dijajaki, yakni Minho University (Potugal), Murcia University (Spanyol) dan Lavia University (Latvia).

            “Insya Allah UMM ini adalah kampus yang memang kondusif buat warga asing sehingga mereka selalu ingin kembali ke sini,” ujar Suparto bangga. (nas)   

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image