Indonesia English Arabic

Dari Turun Lapang hingga Aksi Solidaritas untuk Lombok Menggema di Kampus Putih

Author : Humas | Rabu, 12 September 2018 09:39 WIB

Berita UMM

 
 
Sejak terjadi gempa pertama pada Minggu (29/ 7), relawan silih berganti hadir memberikan uluran bantuan untuk para korban gempa bumi yang terjadi di Lombok. Hal tersebut menggugah pemikiran-pemikiran civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk turut andil dalam penyelamatan para korban gempa. Mulai dari diturunkannya tim dari Lembaga Pelaksana Teknis (LPT) Psikososial UMM, Tim Medis Rumah Sakit Umum (RSU) UMM hingga penguatan karakter mahasiswa baru melalui aksi solidaritas formasi flashmob Pray for Lombok.
 
Diakui oleh Rektor UMM Fauzan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut adalah salah satu media untuk meneguhkan kembali semangat para generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan.
 
“Jadi bukan sekedar memberitahukan identitas UMM, tapi juga menegaskan bahwa UMM harus menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya.
 
Lebih lanjut, berangkat dua pekan setelah gempa pertama tim LPT Psikososial UMM menggarap empat program utama dalam penangangan penyintas, di antaranya Psikoedukasi, Terapi, Forum Group Discussion (FGD), dan Distract Activity. Seluruh kegiatan tersebut dijelaskan oleh Ahmad Hendra Purwanto Koordinator LPT Psikososial UMM adalah bentuk penangangan penyintas bencana alam secara psikologis.
 
"Kita punya empat program utama yang ditujukan untuk mengembalikan kestabilan para penyintas," terang mahasiswa Psikologi UMM tersebut.
 
Bersama dua belas anggota, LPT Psikologi UMM juga membuka kelas Trauma Healing bagi anak-anak. Kegiatan pada Trauma Healing  di antaranya mengajak anak-anak untuk bermain, belajar bersama, membacakan dongeng, dan kegiatan-kegiatan literasi lainnya.
 
"LPT Psikologi memang terfokus pada pemulihan psikologis para penyintas, tidak hanya orang tya tapi juga anak-anak," tegas Hendra.
 
Bersama dengan turunnya Tim LPT Psikologi, UMM juga menurunkan tim medis yang tergabung di RSU UMM. Sempat mengalami beberapa kali gempa saat melaksanakan tugas, Tim Medis RSU UMM berhasil menyusuri 10 dusun dan desa yang berada di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara. Disampaikan oleh salah satu anggota tim medis, Sandy Dewanto saat melakukan penyisiran korban ti medis mengalamin beberapa kesulitan seperti akses jalan yang rusak dan keterbatasan obat-obatan.
 
"Sejak kita di sini, kita sudah mengalami beberapa kali gempa. Tapi akhirnya kita berhasil ke beberapa dusun dan desa di dua kabupaten," papar perawat Tim Medis RSU UMM tersebut.
 
Tim Medis RSU UMM tim kedua setelah sebelumnya tim pertama yang terdiri dari Tim Medis Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan dan Rumah Sakit (RS) Pembina Kesehatan Umum (PKU) Bima. Berdasarkan hasil penyisiran selama sembilan hari, Tim Medis UMM bersama Relawan MDMC menemui banyak sekali korban-korban yang masih sangat sulit akses penanganannya sehingga masih bertahan di posko-posko yang jauh dari pusat medis.
 
"Sembilan hari di sana kita setiap hari masih menemukan banyak korban yang belum tertangai karena memang akses jalan yang sulit," kata Sandy.
 
Seiring dengan semangat dua tim yang telah mewakili UMM secara langsung di lapangan, aksi solidaritas untuk saudara sebangsa juga menggema di pada pembukaan ageda Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) UMM pada Minggu (2/9). Melalui formasi flashmob Pray for Lombok, mahasiswa UMM berasal dari Lombok berhasil menggalang dana bantuan dari peserta PESMABA sebesar Rp. 50.000.000, 10 RM, dan 20 Bath. Bantuan dana tersebut disalurkan melalui Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LASIZMU) Kabupaten Malang.
 
"Dana yang terkumpul ini adalah salah satu bentuk aksi nyata untuk menerjemahkan salah satu formasi Jasmerahmob yaitu Pray for Lombok," ungkap Moh. Isnaini Sekertaris Humas UMM sekaligus tim perancang konsep Jas Merah Mob. (nis/isn)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image