Cak Nun: Muhammadiyah itu NU, NU itu Muhammadiyah

Author : Humas | Senin, 06 Juli 2015 10:29 WIB
 

KEHADIRAN budayawan nasional Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun pada kegiatan Sinau Nuzulul Quran di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) benar-benar memberi warna baru bagi warga kota Malang. Gelaran yang berlangsung di heliped UMM, Ahad malam (5/7) itu terlihat sangat cair karena Cak Nun mampu meleburkan pengkotak-kotakan Islam secara sektarian menyatu dalam nilai-nilai universal al-Quran.

      “Partai politik itu yang bikin siapa, manusia. Muhammadiyah itu yang bikin siapa, manusia. NU (Nahdlatul Ulama) itu yang bikin siapa, manusia. Islam itu yang bikin siapa, Allah. Al-Quran itu yang bikin siapa, Allah. Makanya ojo dumeh (jangan mentang-mentang). Kita sebagai manusia jangan merasa yang paling benar,” kata Cak Nun.

      Bagi Cak Nun, Muhammadiyah dan NU bisa menjadi kekuatan keagamaan terbesar yang mampu mengalahkan kekuatan apapun. “Yang penting Muhammadiyah kompak, NU kompak, dan masing-masing tau perannya apa bagi bangsa dan peradaban,” ujarnya.

      Bahkan, Cak Nun menilai bahwa Muhammadiyah dan NU itu sebenarnya tidak ada bedanya, karena Muhammadiyah itu artinya berkarakter Muhammad sementara NU bermakna kebangkitan ulama. “Jadi kalau sudah ikut Muhammadiyah, otomatis jadi NU, jadi ulama. Sebaliknya, kalau ikut NU puncaknya ya jadi Muhammadiyah, berkarakter Muhammad. Jadi ayo bareng-bareng bangun Indonesia,” tuturnya yang disambut applause puluhan ribu hadirin.

      Terlebih, kata Cak Nun, Muhammadiyah dan NU akan sama-sama mengadakan Muktamar pada Agustus mendatang. “Semoga pada Muktamar nanti terpilih para panglima jihad yang siap melakukan revolusi kebaikan bagi segenap umat,” harapnya.

      Lebih lanjut Cak Nun menjelaskan, aktualisasi nilai-nilai al-Quran bisa dilakukan dengan banyak cara. “Memberi nafkah pada keluarga, menolong orang lemah, membangun kampus yang menjadi laboratorium generasi pemimpin dunia, itu sama saja mengamalkan al-Quran. Saya doakan, saya mohon pada Allah agar pahalanya dinilai sama dengan yang mengkhatamkan al-Quran.”

      Sebab itulah Cak Nun menilai, apa yang dilakukan UMM di bidang pendidikan ini adalah bagian dari pengamalan al-Quran. “Kampus ini indahnya luar biasa, semoga UMM menjadi mercusuar seluruh dunia.”

      Pada kegiatan ini, Cak Nun ditemani band pengiringnya, yaitu Kyai Kanjeng. Selain menyanyikan lagu-lagu shalawat yang biasanya dilantunkan, Kiai Kanjeng tak lupa menyanyikan lagu Mars Muhammadiyah atau Sang Surya.

      Cak Nun juga secara spontan mengundang sejumlah akademisi di UMM untuk tampil di atas panggung, di antaranya yaitu Guru Besar Sosiologi Agama UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi, Pembantu Rektor III UMM Dr Diah Karmiyati Psi, Asisten Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Dr Nurhakim MAg, dan Dosen Fakultas Agama Islam UMM Dr Pradana Boy MA(AS).

      Ketika ditanya Cak Nun tentang apa keuntungan adanya al-Quran secara sosiologis, Syamsul Arifin menilai, al-Quran telah menjadi perekat sosial (societal glue) yang menyatukan berbagai kelompok yang berbeda. “Setiap kelompok bisa saja memiliki cara pandang keagamaan yang berbeda, tapi kita semua disatukan dengan adanya al-Quran,” paparnya.

      Terkait dundangnya Cak Nun pada Syiar Ramadhan di UMM, ketua panitia Ihyaul Ulum mengatakan, saat ini masyarakat membutuhkan perspektif yang lebih cair. “(Diundangnya Cak Nun) ini request (permintaan) langsung dari pak Rektor (Muhadjir Effendy). Kita ingin meneguhkan konsep ummatan wasathan, yaitu titik tengah antara Muhammadiyah dan NU, sekaligus menunjukkan pada masyarakat bahwa kita selama ini selalu serasi,” jelas Ulum.

      Bahkan, PR III UMM Diah Karmiyati mewakili Rektor mengatakan, setiap tahunnya UMM rencananya akan terus mengundang Cak Nun pada bulan Ramadhan. Diah menilai, Cak Nun adalah adalah sosok yang bisa bicara apa saja. “Dia senantiasa menyuarakan kebenaran dan berbicara atas nama kemanusiaan,” kata Diah.

      Kegiatan Sinau Nuzulul Quran bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng ini sekaligus melanjutkan Ceramah Nuzulul Quran bertema “Sains dan al-Quran” oleh penulis buku best-seller “Ayat-Ayat Semesta” Dr Agus Purwanto dua hari sebelumnya, Jumat (3/6). Dua kegiatan Nuzulul Quran tersebut merupakan bagian dari rangkaian Syiar Ramadhan 1436 H UMM yang berisi sejumlah agenda sejak awal Ramadhan hingga Idul Fitri. (han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image