Budaya Kontemporer ala Muhammadiyah

Author : Humas | Kamis, 22 Juli 2010 10:48 WIB
Pertemuan terakhir Muhammadiyah Update yang  membahas tema Muhammadiyah dan Pertarungan Identitas Budaya Kontemporer.Prof. Dr. Syafiq Mughni MA mengungkapkan bahwa peradaban antara Islam dan Barat sebagai proses asimilasi. 

Diskusi berkala yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) bertajuk “Muhammadiyah Update” memasuki babak terakhir, Sabtu (15/05). Empat pembicara, yaitu Prof. Dr.  Syafiq Mughni MA, Dr. Zuly Qodir M.Si, Prof.Dr. Syamsul Arifin, M.Si dan Kepala Lembaga Kebudayaan UMM, Dr. Sugiarti M.Si membahas tema Muhammadiyah dan Pertarungan Identitas Budaya Kontemporer.

Syamsul Arifin membuka diskusi itu dengan pendapatnya tentang budaya modern yang akan dilalui pasca muktamar yaitu pada abad kedua. Mengutip pemikiran dari seorang ahli asal Amerika, James Peacock tentang Muhammadiyah yang dinilainya sebagai kelompok terbuka dalam menerima kebudayaan dari luar.

Kemudian, dinilainya pula bahwa organisasi yang berkembang pesat pada era 70-an ini sebagai gerakan yang tidak terikat pada otoritas, representasi dari manusia modern. Orang Muhammadiyah bisa disebut cosmopolitan. Sehingga budaya tidak diartikan dalam batas kesenian belaka. Sejatinya, di dalam kebudayaan tersebut mengandung system of knowledge yang syarat akan ide, nilai dan sikap.

Kekuatan Muhammadiyah yang menyangkut tiga hal seperti religius reformis. “Saya menangkap uforia pada kader Muhammadiyah, karena tidak gampang mempertahankan dan memelihara Muhammadiyah hingga satu abad seperti ini” ungkap guru besar UMM tersebut. Sehingga kita perlu menguji apakah kekuatan budaya itu sudah melekat atau tidak.

Muhammadiyah dinilai Syamsul mengalami infiltrasi idiologis. Fenomena tersebut dapat dilihat dengan mengubah kepribadian Muhammadiyah yang inklusif ke arah eksklusif. “Di sisi lain, dunia pendidikan Muhammadiyah tidak lagi menjadi pemain yang diperhitungkan dan kekurangn peminat,” ujar Syamsul menyayangkan.

Perubahan budaya dari cosmopolitan menjadi eksklusif tersebut sangat berdampak pada perkembangan amal usaha Muhammadiyah yang tidak dinamis. Masih menurutnya, corperate culture yang ada di Muhammadiyah harus bisa dibedakan menurut kebutuhannya.

Di lain pihak, Sugiarti memandang Islam dan kebudayaan dalam kacamata yang berbeda. Mengutip pendapat ahli budaya dari Barat, Islam adalah sumber dari kebudayaan itu sendiri. Tidak hanya sebagai sumber ajaran teologi yang mengajarkan tentang ketuhanan itu saja, tapi juga mengajarkan kebudayaan yang sempurna seperti yang tertuang dalam QS : Al Qashash : 77.

Produk budaya dalam bentuk pengetahuan hendaknya didasarkan pada ajaran agama. Sehingga benturan antara tradisi dan modernitas dapat terpenuhi tanpa kehilangan jati diri. “Pengetahuan tanpa ajaran agama akan buta. Begitu pula Agama tanpa pengetahuan akan lumpuh,”  tambah dosen FKIP UMM tersebut.

Menurut Sugiarti, Muhammadiyah dapat terus berkibar dengan berbagai solusi diantaranya harus mampu bersikap bijaksana dalam merespon segala sesuatu yang terjadi pada masyarakat baik secara proaktif, selektif maupun cerdas. Kemudian, harus terus berpedoman pada Alquran dan Assunah sabagai sumber dari segala sumber kehidupan dalam membangun budaya kontemporer.

Sedangkan Zuly Qodir manambahkan, budaya populer dan masyarakat konsumtif sangat erat kaitannya dengan penikmat globalisasi. Selain banyaknya dampak negatif dari globalisasi itu sendiri, kemudahan dalam mengakses informasi menjadi sisi positif dari fenomena tersebut. Terjadi deteritori yang kemudian menghilangkan batasan antara orang kota dan orang kampung.

Gaya hidup kemudian menunjukan identitas orang tersebut sebagai gengsi sosial yang berkembang di masyarakat. Hal tersebut terjadi akibat adanya komodifikasi dan marketisasi budaya secara massif. Hal tersebut kemudian biasa disebut dengan popular culture. “Contohnya popular culture dapat dilihat dengan maraknya pemakaian jilbab. Ala artis ibukota untuk kalangan muslimah Indonesia,” ungkap Zuly.

Pentingnya belajar sejarah agar membuat manusia tidak terjatuh pada lubang yang sama. Sehingga, manusia tidak terkungkung pada cerita masa lalu. “Jadi proses gozhul fikri sebagi pemerangan pemikiran sangat penting untuk membangun budaya yang membawa manfaat dan kemajuan kita bersama. Kecenderungan kekuatan Muhammadiyah yang membuka peradaban baru,” lanjut Zuly.

Sebagai pembicara terahir, Syafiq Mughni mengungkapkan bahwa peradaban antara Islam dan Barat sebagai proses asimilasi. Dari beberapa unsur tergabung menjadi satu kemudian menjadi budaya baru yang mencerahkan. Proses akulturasi menjadi budaya yang dominan.”Sehingga, mari kita jadikan Muhammadiyah sebagai budaya baru lewat asimilasi dan akulturasi budaya lewat kajian pengetahuan yang sudah teruji intelektualitasnya untuk pencerahan umat kita,” ungkapnya penuh harapan. Mengislamisasikan hal tersebut pada wilayah baru agar Muhammadiyah menjasdi organisasi yang baru, segar dan tidak membosanka. (rwp/nas)

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image