BIPA UMM Kenalkan Budaya Gotong Royong Lewat Diplomasi Kemanusiaan

Author : Humas | Kamis, 16 Mei 2019 09:43 WIB
Kevin dari Amerika Serikat saat mengajak salah satu anak panti asuhan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. (Foto: Istimewa)

Momen Ramadhan rupanya dimanfaatkan sekelompok mahasiswa asing ini dengan cara berbeda. Sekelompok mahasiswa dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai negara berbagi kepada sesama di Panti Asuhan Putri Aisyiyah, Dau, Selasa (14/5) sore.

Kepala UPT BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. menerangkan, kegiatan filantropi ke Panti Asuhan dan ke beberapa tempat khusus lain nantinya, sebagai bentuk usaha BIPA UMM untuk melakukan diplomasi kemanusiaan. Yakni mempererat hubungan negara asal mahasiswa asing melalui kegiatan berbagi atau kemanusiaan.

Karena nilai-nilai kebaikan itu sifatnya universal. Di Indonesia, sambung Arif, salah satu sikap yang menonjol adalah gotong royong. Budaya ini bisa diartikan juga dengan berbagi. “Kebetulan, baru terselenggara tahun ini, di Ramadhan ini, melalui kegiatan buka bersama. Sejauh ini baru di panti asuhan Aisyiyah,” beber Arif.

Baca juga: Pakar Energi UMM: Air, Angin, dan Surya Jadi Sumber Listrik Masa Depan

Yang kedua, yaitu mendekatkan kepada masyarakat. Jadi, mengenalkan kepada masyarakat sebuah pergaulan internasional. “Anak yatim juga kita perkenalkan sebuah wawasan global karena mereka mendapat kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang-orang asing dari banyak negara,” ungkap Arif saat ditemui (15/5).

Selain itu, dilanjutkan Arif, kegiatan ini juga bersifat rekreatif. Kegiatan ini dimaksudkan agar para mahasiswa BIPA UMM tidak jenuh belajar di kelas. “Mereka keluar kelas untuk mengunjungi tempat khusus, yaitu tempat mereka untuk berbagai, tempat mereka untuk menjalin sebuah komunikasi yang berkesetaraan,” ungkap Arif.

Bantuan yang diberikan tidak hanya yang bersifat intelektual, seperti pembelajaran bahasa. Pembelajaran ini dilakukan agar mahasiswa BIPA tidak hanya mengenal budaya dan wisata. Lebih dari itu, mahasiswa juga memahami dinamika sosial yang ada di sekitar tempat mereka tinggal selama belajar budaya dan bahasa.

Baca juga: Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Pesan Ahmad Dahlan yang Diamalkan Bu Mei

Mahasiswa BIPA antusias mengikuti kegiatan tahunan ini. Bagi mahasiswa asing muslim, kegiatan ini menarik karena mereka menemukan pengalaman tak biasa. Tidak seperti kebiasaan yang mereka alami di negaranya. Bagi non-muslim, pengalaman buka bersama dengan masyarakat lokal sebagai pembelajaran keragaman.

“Setelah saya mengikuti acara itu, saya senang sekali karena bisa melihat bagaimana panti asuhan di Indonesia. Mulai dari sistemnya, jadwal pelajarannya, dan yang mereka lakukan. Selain itu, saya menjadi tahu karena melihat langsung bagaimana tradisi orang Indonesia ketika berbuka puasa,” ungkap Vuly, mahasiswa asal Mesir. (bel/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image