Bioteknologi Harus didampingi dengan Bioetik

Author : Humas | Selasa, 03 Agustus 2010 07:41 WIB
 

Mengiringi agenda kongres ke-5 Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI), digelar pula seminar internasional bioteknologi oleh KBI bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Bioteknologi UMM pada Rabu-Kamis (28-29/07). Konggres dilaksanakan di UMM Inn sedang seminar ditempatkan di theater DOME. Seminar  menghadirkan tujuh pembicara dari luar negeri  yaitu Prof. Dr. Winai Dahlan (Thailand), Harvey Glick, Ph.D. (USA), R.V. Ebora, Ph.D. dan Dr. Inez Hortense S. Loedin (Philiphina), Wim Maaskant (Netherland), Francois Malherbe, Ph.D. (Australia) dan Tanaka Nao, Ph.D. (Jepang). Sedang tiga pembicara dari dalam negeri adalah Prof. Dr. Endang Sukara, Prof. Umar Anggara Jeni, Ph.D., dan Prof. Ferry Sandra. Selaku keynote speeker sekaligus membuka acara adalah Deputi menteri koordinator ekonomi bidang pertanian dan kelautan, Ir. Diah Maulida, M.A.

Prof. Dr. Bambang Prasetya, dalam sambutannya menyatakan, kegiatan tersebut sangat berarti bagi KBI, sebagai organisasi profesional yang memiliki 44 anggota yang terdiri dari lembaga riset, industri dan universitas. “Satu hal yang terpenting dari misi KBI adalah guna memperkuat pengembangan KBI dalam mengkolaborasikan penelitian di Indonesia, jaringan informasi serta penilitian di bidang pengembangan ilmiah dan manusia”, jelas Bambang. Harapannya, hasil dari seminar ini akan bermanfaat untuk banyak hal, terutama dalam bidang agrikultural.

Sambutan dari rektor UMM sangat antusias mendukung terselengaranya acara tersebut. Apalagi dengan adanya acara lokakarya PTM se-Indonesia yang menjadi satu kesatuan pelaksanaan dengan acara konggres, seminar, woekshop dan pameran. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Selanjutnya menyampaikan bahwa bioteknologi sangat strategis perannya dalam pengembangan industri ke depan. Hanya saja perlu ada koridor dalam aktivitas pengembangan bioteknologi yang berupa bioetik sebagai rambu-rambu.

Deputi menko ekonomi, Diah Maulida, menyampaikan bahwa para pakar dan mahasiswa merupakan komunitas yang diharapkan memiliki visi, misi, semangat dan dedikasi yang tinggi sesuai dengan kapasitas keilmuaan yang dimilikinya untuk mendorong dan melakukan perubahan. Aktivitas pemanfaatan, penguasaan dan pengembangan IPTEK yang memasukan bioteknologi didalamnya, diharapkan memberikan dampak positif pada pembangunan di bidang sosial maupun ekonomi.

 “Saya merasa berbahagia berhadapan dengan para pakar dan mahasiswa yang hadir di sini, yang segera mengisi pembangunan dengan peranan sebagai administrator di segala bidang”, ungkapnya. Lebih lanjut disampaikan, salah satu hasil pengembangan bioteknologi adalah rekayasa genetika untuk peningkatan produktivitas dan kualitas pangan. Hal tersebut juga memunculkan kekuatiran pada kualitas pangan yang dihasilkan terhadap kesehatan manusia yang berimbas pula pada permasalahan sosial ekonomi. Maka kebijakan yang dihasilkan harus sejalan dengan amanat protokol Cartagena, dimana Indonesia juga turut meratifikasi.

Terkait hal diatas maka kementrian koordinator perekonomian bersinergi dengan kementrian riset dan teknologi membuat berbagai kegiatan  penguatan sistem inovasi untuk memacu masyarakat dalam bidang bioteknologi. “Selamat untuk KBI yang telah mampu meningkatkan kreativitas serta inovasi di bidang bioteknologi melalui diskusi ilmiah, pendalaman materi serta pameran yang bernuansa iptek, serta menyelenggarakan seminar ini”, ungkap Maulida mengakhiri pidato.rwp/jss

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image