Indonesia English Arabic

Bersama NUS dan UKM, PSIF UMM Inisiasi Kuliah di Tiga Negara

Author : Humas | Senin, 08 Oktober 2018 09:44 WIB

BERITA UMM

 

Poster kegiatan

BERSAMA dua universitas ternama di Asia Tenggara, yaitu National University of Singapore (NUS) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi serial kuliah bersama (joint lecture series) yang akan diadakan bergantian di Malaysia, Indonesia dan Singapura.

 
Tema besar kuliah bersama di tiga negara ini yaitu “Nusantara Bergerak”. Nusantara di sini, menurut sekretaris PSIF UMM Subhan Setowara, merujuk pada lingkaran kepulauan Melayu di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura termasuk di antaranya. “Sekalipun menurut banyak orang Indonesia, nusantara hanyalah Indonesia, harus diakui menurut akar sejarahnya Malaysia dan Singapura juga merupakan bagian dari nusantara,” ungkap Subhan.
 
Malaysia menjadi host perdana serial kuliah ini yang berlangsung pada Ahad (7/10) di Gedung Gerakbudaya, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Hadir sebagai penyaji kuliah Dr Faisal Tehrani dari Akademi Alam dan Tamaddun Melayu (ATMA) UKM, Dr Azhar Ibrahim Alwee dari Malay Studies NUS, dan Dr Pradana Boy dari UMM. Kuliah seri berikutnya akan diadakan di UMM dan NUS. Di setiap kuliah, akan ada penyaji pakar dari masing-masing tiga negara tersebut.
 
Subhan menjelaskan, kolaborasi akademik lintas negara ini amat penting karena di antara negara-negara yang menjadi bagian dari bangsa nusantara kadangkala terlibat ketegangan dan klaim. “Hal itu terjadi karena pemahaman sebagian besar masyarakat akan hakikat nusantara tidaklah cukup. Untuk mengatasi persoalan ini, berbagai ikhtiar perlu digalakkan, salah satunya melalui ikhtiar akademik,” tuturnya.
 
Selain dimaksudkan sebagai ajang pertukaran gagasan dan wacana kritis lintas negara, serial kuliah bersama ini diharapkan dapat melahirkan kesadaran emansipatif; yaitu rasa peduli dari warga nusantara untuk sama-sama bergerak membawa perubahan progresif di negara-negara tersebut. “Kuliah nantinya bisa disampaikan dalam bahasa Melayu, bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris,” ujar Subhan.
 
Mata kuliah yang diangkat, lanjut Subhan, akan meliputi topik-topik nusantara yang bersifat interdisipliner meliputi tema-tema kebudayaan, tradisi keagamaan, kesusasteraan, kesenian, keilmuan dan pendidikan tinggi, politik dan institusi, sejarah dan kemasyarakatan, pembangunan dan  ekonomi, lingkungan dan tema-tema lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat nusantara. (han/sil/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image