Berbagi Kesuksesan dengan Dua Kampus Muhammadiyah

Author : Humas | Jum'at, 17 April 2015 16:17 WIB
Cinderamata: Staf ahli PR III UMM, Joko Widodo (kiri) memberikan cinderemata berupa buku kepada Wakil Rektor III UMSIDA Hendarto (kanan), Kamis (16/5).

DUA kampus Muhammadiyah berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (16/4). Dua kampus tersebut adalah STIKES Muhammadiyah Kudus dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Keduanya melakukan studi banding untuk belajar mengenai pengembangan berbagai bidang.

Rombongan STIKES dipimpin Ketuanya,  Rusnoto, SKM, M.Kes (Epid) bersama jajaran wakil ketua diterima Pembantu Rektor I UMM, Prof Dr Bambang Widagdo, MM. Hadir dalam silaturahim ini, Kepala Biro Administrasi Akademik Dr Dwi Priyo Utomo, Dekan Fikes UMM Yotok Bekti dan jajaran Pembantu Dekan, serta Kepala Humas Nasrullah dan Sekretaris Humas Rina Wahyu.

 Sedangkan Umsida berkunjung ke kantor Pembantu Rektor III dipimpin Wakil Rektor III Umsida Hendarto diterima Kepala Biro Mawa UMM, Abdullah Masmuh, didampingi staf ahli PR III Joko Widodo, Kabiro Kerjasama Luar Negeri Dr. Abd Haris, MA, kepala Humas UMM Nasrullah dan jajaran kemahasiswaan.

Rusnoto mengaku inisiatif kunjungan ini muncul ketika bertemu rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP dalam sebuah acara di Makasar. Pihaknya merasa memiliki “saudara” tua tempat untuk menimba ilmu, terutama dalam manajemen sebuah kampus yang baik seperti UMM.

“Kami ingin mengembangkan STIKES ini menjadi universitas. Untuk itu perlu banyak masukan dari UMM sebagai saudara tua, karena di Kudus kami ini rata-rata seusia,” ujar Rusnoto.

Ada tiga hal yang menarik perhatian, STIKES Muhammadiyah Kudus terhadap UMM. Selain manajemen universitas, dua hal lainnya adalah pendirian Rumah Sakit dan pengembangan bisnis.

PR I UMM memaparkan sejarah UMM yang juga mulai dari titik terendah. Semua perlu perjuangan yang sungguh-sungguh sehingga bisa meraih sukses seperti UMM. “Concern pada akademik juga tidak boleh setengah-setengah, harus melayani mahasiswa sebaik mungkin karena merekalah corong promosi kita,” tutur Bambang.

Di tempat lain, Warek III Umsida mengaku ingin belajar tentang pengembangan kerjasama, kemahasiswaan dan pencitraan kampus. Sebagai kampus yang berdekatan dengan ibu kota propinsi, persaingannya dinilai sangat ketat. Oleh karenanya kerjasama dengan pihak luar harus kuat.

“Kami harus belajar dari UMM yang sudah memiliki jaringan internasional yang sangat luas. Kami ini masih kesulitan untuk memulainya,” kata Hendarto.

Di bidang kehumasan, Umsida menginginkan masyarakat lebih mengenal kampusnya. UMM menjadi benchmark sebagai kampus yang hampir tidak ada orang yang tidak mengenalnya dengan ciri-ciri yang khas.

“Promosi dan publikasi UMM dilakukan melalui berbagai lini media, tetapi yang paling penting adalah informasi tersebut memiliki nilai lebih, tidak sekedar promosi. Misalnya, kita memiliki tagline dari Muhammadiyah untuk bangsa, maka ini kita kreasi menjadi pesan bahwa mahasiswa kita memiliki kekhasan dengan sebutan Jas Merah Kampus Putih. Ini tidak mudah ditiru kampus lain, ini yang kita kembangkan,” terang Nasrullah.

Ditambahkan, sebagai kampus Muhammadiyah, UMM juga harus memiliki merk yang kuat. Oleh karenanya perlu ditentukan differensiasi, positioning, dan packaging-nya. “Barang bagus, berkualitas, harus dikemas secara baik dan mengena, ada pembeda dibanding dengan merk-merk lain, itu prinsipnya,” pungkas kepala Humas membuat analogi tentang branding. (zul/nas) 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image