Beramal Saja Tak Cukup bagi Muhammadiyah

Author : Humas | Senin, 08 Juni 2015 14:07 WIB

WAKIL Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, menyatakan meski Muhammadiyah merupakan organisasi non-profit bukan berarti tidak boleh berbisnis. Justru di awal-awal berdirinya organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini disebarkan sembari melakukan perdagangan ke daerah-daerah.

Hal ini disampaikan Muhadjir ketika memberikan tausyiah pada pembukaan Musyawarah Pimpinan ke-2 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pasuruan, di Bangil, Minggu (7/6). Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini diminta untuk memotivasi PDM dalam memperkuat pilar ekonomi Muhammadiyah setempat.

“Di Muhammadiyah ada istilah yang sangat familier yakni amal usaha, yang artinya kita tidak cukup hanya beramal soleh saja tetapi perlu didukung usaha atau bisnis untuk memperkuat dakwah itu,” kata Muhadjir.

Dengan memperkuat jaringan ekonominya, Muhammadiyah diyakini Muhadjir, bisa lebih mandiri. Oleh karenanya, usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah harus dilakukan secara bersungguh-sungguh dengan penuh kesabaran.

Terminologi sabar ini bukan sebagaimana yang sudah dikenal dalam masyarakat. Sabar, bagi Muhadjir, adalah penuh strategi, penuh perhitungan. “Bukan sekedar menerima, cepat menyerah. Sabar itu perlu keuletan, ketangguhan dan ketelitian. Sabar dalam berbisnis bisa berarti sebuah strategi,” tuturnya seraya menyontohkan keberhasilannya membangun unit-unit bisnis yang menopang UMM.

Namun Muhadjir juga mewanti-wanti agar membangun usaha itu dengan dua kekuatan sekaligus, yakni amanah sebagai ciri khas Muhammadiyah dan profesional sebagai keharusan dalam berbisnis. “Orang baik saja tapi tidak profesional juga tak akan berhasil, sebaliknya orang profesional dalam berbisnis tetapi tidak memiliki komitmen pada Muhammadiyah juga berbahaya,” ungkap Muhadjir pengingat pengalaman PP Muhammadiyah tahun 2005 yang hampir terbelit kasus Bank Persyarikatan.

Amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah saat ini sudah cukup luas dan banyak. Demikian pula tantangan dakwah juga semakin berat. Oleh karenanya diperlukan kemandirian agar dakwah tidak mudah goyah oleh kepentingan lain hanya karena kekurangan dana. “Oleh karena itu dakwah Muhammadiyah harus ditopang kekuatan ekonomi agar kita terhindar dari mental meminta-minta, kita harus bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri,” kata Muhadjir.

Muspimda dihadiri sekitar 200 warga Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Pasuruan. Hadir pula ketua PDM Kabupaten Pasuruan dan Asisten II Pemkab Pasuruan. Pendalaman materi penguatan ekonomi diberikan oleh rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr dr Sukadiono, MM di sesi berikutnya. (nas)

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image