Begini Penjelasan Beragama yang Mencerahkan Menurut Wantimpres RI

Author : Humas | Kamis, 07 Februari 2019 15:41 WIB
Prof. Dr. H.A Malik Fadjar M.Si. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia (RI). (Foto: Rino/Humas)

Prof. Dr. H.A Malik Fadjar M.Si. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia (RI) menyebut tema Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari 2019 mendatang, “Beragama yang Mencerahkan” sesuai dengan kondisi umat beragama, khususnya bagi kondisi umat Islam masa kini.

Tema tersebut dinilai Malik sangat tepat bagi Muhammadiyah untuk merenungkan kembali sekaligus membaca realitas dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dalam perspektif agama. Utamanya jika dilihat dari perspektif Muhammadiyah secara khusus.

Dilanjutkan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/1), Malik mengisahkan saat K.H. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah ditanya tentang, “Apakah Islam itu?” Jawaban Kiai Dahlan, bagi Malik, sangat sederhana dan sangat mendasar.

“Islam itu ialah, setelah iman yakni kemanusiaan,” tegas Malik saat didapuk memberikan sambutan pada pembukaan Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Theater Dome UMM. Mengusung tema “Revitalisasi Keberagamaan yang Mencerahkan menuju Indonesia Berkemajuan”.

Lantas, apa dasar pertimbangan Kiai Dahlan menyatakan hal ini? Selain menjelaskan melalui dasar-dasar perintah Al Quran melalui banyak ayat yang tercantum di dalamnya, Kiai Dahlan mengaktualisasikan berbagai perintah dalam al Quran melalui aksi nyata. Demikian disebut Malik sebagai amal sholeh.

“Amal sholeh adalah amal yang sejalan dengan hati nurani. Hati nurani pasti selalu memihak kebenaran, kemanusiaan dan banyak hal baik lainnya,” sebut Malik. Lalu, sambung Malik, diwujudkan oleh Muhammadiyah dengan gerakan al Ma’un atau Teologi al Ma’un. Yakni terminologi pemikiran dan praktik keberagamaan

Dengan surat al Ma’un itu lahirlah sekian banyak gerakan kemanusiaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah setelah melampaui usia satu abadnya. “Sehingga, dalam konteks ini, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada kita semua bahwa kunci dalam beragama adalah kemanusiaan,” ungkap Malik.

Malik lantas mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Kamu tidak akan mampu mencukupi kebutuhan manusia, mendamaikan seluruh persoalan kemanusiaan sekadar dengan harta kekayaan dan pangkat kedudukanmu. Tetapi kamu akan bisa mewujudkan kehidupan yang mensejahterakan dengan akhlakmu,” ujarnya.

“Maka menaburkan keberagamaan itu harus dalam suasana mencerahkan,” tandas Malik. Demikian juga, sambungnya, dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. Bermuhammadiyah itu, sebutnya, harus menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus mencerdaskan. Lebih jauh lagi sampai pada tahapan memberdayakan. (*/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image