Wapres Jusuf Kalla: Bangsa Tak Memiliki Batas

Author : Humas | Senin, 08 April 2019 08:58 WIB
Wapres Jusuf kalla (kiri) menerima album kaleidoskop UMM dari Rektor UMM Fauzan. (Foto: Rino/Humas) 

“Apa beda negara dengan bangsa?” demikian Wakil Presiden RI melempar pertanyaan kepada ribuan peserta Festival Kebangsaan II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/4). Seringkali, katanya, kita sulit membedakan keduanya. “Negara jelas ada batasnya, tetapi bangsa tidak memiliki batas. Batasnya adalah kesamaan, perasaan, sejarah, juga tujuan,” tegasnya.

Batas-batas inilah, sambung Jusuf Kalla, yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Walaupun kita berbeda-beda. “Indonesia memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh negara atau bangsa lain. Kita memiliki negara kepulauan terbesar di dunia, yakni sekitar 17 ribu pulau. Penduduknya adalah modal utama. Meski begitu hanya kuantitasnya, melainkan dari kulitasnya. Penduduk itu aset,” ungkapnya.

Pola pikir inilah yang diadopsi China dengan jumlah 1,4 milyar penduduk.  Bagi China, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tak dipandang sebagai beban. serta memunculkan anggapan bahwa negaranya tak bisa maju. “Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar, dan alhamdulillah juga damai dibanding dengan negara berpenduduk Islam lainnya. Inilah potensi kita,” kata Jusuf Kalla.

Baca juga: Wapres Jusuf Kalla Resmikan Lima Infrastruktur Baru UMM

Semua hal yang terdapat di Indonesia itu, disebut Jusuf Kalla, sebagi modal bagi Indonesia untuk maju. Kita menghargai kebangsaan kita dengan Kebhinekaan. Perbedaan bukanlah kelemahan, tetapi perbedaan adalah kekuatan. “Apa yang dilakukan UMM hari ini (menggelar Festival Kebangsaan, red.) ialah bagaimana usaha untuk membina bangsa yang besar,” ujar Jusuf Kalla.

Sementara, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak boleh hilang dari Republik ini. “Diadakannya Festival Kebangsaan di kampus ini, karena memang UMM telah bertekad menyatakan dirinya ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” kata Badan Pembina Harian UMM ini.

Lebih jauh lagi, Bhineka Tunggal Ika disebut Malik, bukanlah suatu kebetulan. Tapi lahir dari kesadaran, penghayatan, serta kecermatan para pendiri bangsa ini, bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk. “Bahkan sadar betul, kemajemukan bangsa Indonesia itu multi dimensi. Yakni dengan perbedaan latar belakang agama, suku, sosial-ekomini, termasuk dalam pilihan politik,” ungkapnya.

Baca juga: Festival Kebangsaan II UMM Dibuka Wapres Jusuf Kalla

Komitmen bangsa ini, ditegaskannya, bahwa Pancasila merupakan puncak kesepakatan bangsa, tidak boleh diganti oleh paham kebangsaan lain. “Pancasila adalah ideologi bangsa. Pancasila adalah dasar negara. Pancasila sudah sangat final dan tidak boleh digeser. Tapi Pancasila, sangat terbuka untuk ditelaah, dikembangkan, dan direaktualisasikan sesuai dengan zamannya,” tambah Malik.

Di sisi lain, pendiri Institute for Syriac Cristian Studies (ISCS) Bambang Noorsena dalam orasi kebangsaannya juga menekankan,  perbedaan bukan alasan untuk kita saling menafikkan, saling meniadakan, bahkan saling berhadap-hadapan dalam sebuah konflik. “Melainkan justru menjadikannya suatu kekayaan bersama yang harusnya kita rayakan, bahkan sejak awal perkembangan bangsa ini,” ungkapnya.

Negara Indonesia. disebutnya, mampu menjaga segala perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai kekuatan dan juga kekayaan bangsa. “Sudah bukan saatnya lagi Indonesia memperdebatkan masalah agama, suku, maupun bahasa. Karena karena Pancasila sudah berjalan bersama berdasarkan relnya masing-masing. Pancasila adalah sarana untuk mempersatukannya,” pungkasnya. (*/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image