Bakesbangpol di UMM: KPU Harus Kerja Ekstra Jaring Pemilih Pemula

Author : Humas | Sabtu, 02 Februari 2019 13:07 WIB
Heru Mulyono, S.IP. M.T., (memegang microphone) selaku sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang. (Foto: Mirza/Humas)
PEMILIHAN Umum (Pemilu) serentak pertama di Indonesia akan diadakan pada 17 April mendatang. Momen ini menjadi tantangan baru. Bagaimana tidak, untuk menekan angka golput, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus bekerja ekstra. 
 
Ditambah lagi, angka pemilih pemula meningkat pada tahun ini. Maka perlu beribu cara untuk menarik minat pemilih pemula. Sekaligus menepis anggapan bahwa antri di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak sekedar membuang-buang waktu. 
 
Demikian kata Heru Mulyono, S.IP. M.T., sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang, Sabtu (2/2). Prodi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menaruh perhatian lebih pada situasi ini. 
 
Heru didaulat sebagai pemateri dalam Workshop Pemberdayaan Masyarakat bagi mahasiswa tingkat akhir IP UMM . Hadir pula sebagai pemateri Dr. Oman Sukmana, M.Si, Kepala Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMM di sesi pertama.
 
Pendampingan masyarakat dalam bidang partisipasi politik bukanlah pekerjaan sulit. Menurut Heru, bila sudah memiliki strategi yang matang dan mau turun lapang, tugas ini akan menjadi mudah karena jelas dipraktikkan. 
 
Data lainnya menjelaskan, separuh lebih pemilih di Indonesia adalah perempuan. "Dalam pendampingan, yang jadi tantangan adalah perempuan. Karena pemilih perempuan lebih tinggi jumlahnya daripada laki-laki," jelas Heru. 
 
Kemudian ia menjelaskan undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik. Salah satunya terdapat pada pasal 2 ayat 5, bahwa pendirian dan pembentukannya menyertakan paling rendah 30 persen keterwakilan perempuan.
 
"Perempuan harus berpartisipasi dalam politik. Karena aturan minimal 30% harus melibatkan perempuan," ungkapnya. Lebih lanjut, Heru mengarahkan para peserta workshop untuk bersungguh-sungguh dalam mendampingi masyarakat.
 
Pemberdayaan, kata Oman, perlu dedikasi yang tinggi. "Sebagai seorang intelektual sosial, berdampingan dengan masyarakat adalah hal yang tidak bisa ditawar. Dan sekali-sekali jangan mau main uang," tutupnya. 
 
Sementara itu, Ketua Laboratorium IP UMM Yana S. Hijri, S.IP, M.IP. menyatakan workshop sehari ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan calon wisudawan untuk memahami kembali pentingnya pemberdayaan masyarakat. 
 
“Selain itu, melalui kegiatan workshop ini mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri sebagai fasilitator (pendamping) yang handal dan mumpuni untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan yang muncul di tengah masyarakat,” papar Yana.
 
Di sesi kedua, workshop ini menghadirkan Dr. Rahmad K. Dwi Susilo, M.A., yang memberi materi pemberdayaan Bidang Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana. Serta, Yunan Syaifullah, S.E., M.Sc. di Bidang Ekonomi Pembangunan. (mir/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image