Azyumardi Azra: Indonesia Bukan Lahan Subur Paham Radikal

Author : Humas | Minggu, 28 Juni 2015 13:26 WIB

GURU Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra, MA, CBE mengungkapkan Islam di Indonesia bukan lahan subur bagi paham radikal untuk tumbuh di negara ini. Hal ini diungkapkannya dalam Kajian Ramadhan 1436 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhamammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ahad (29/6) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

      “Harus diakui, radikalisme ini memang sedang marak terjadi, terutama di Timur Tengah, Asia Barat, dan Asia Selatan,” katanya di hadapan tiga ribu peserta kajian yang memadati UMM Dome.

      Bertema “Pencegahan Radikalisme di Dunia Pendidikan”, Azyumardi memberikan alasan mengapa banyak orang-orang muslim Eropa dan negara barat yang banyak bergabung dengan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Dalam paparannya, muslim Eropa terutama generasi mudanya teralienasi secara sosial dan politik dari lingkungannya.

      “Mereka merasa frustasi dan depresi, akhirnya mencari jalan melarikan diri dengan gabung ke kelompok-kelompok yang dianggapnya bisa mengakomodasi mereka. Berbeda di Indonesia, sejak kecil generasi muda muslim Indonesia justru bisa berkembang lebih baik karena lingkungan yang sudah sangat mendukung,” tutur Azyumardi.

      Meski demikian, pengawasan dan pencegahan paham-paham radikal juga perlu dilakukan agar paham ini tidak berkembang luas di Indonesia. “Keluarga merupakan madrasah pertama yang bisa mengajarkan hal ini dengan rasa penuh kasih sayang. Kemudian dari institusi pendidikannya melalui mata pelajaran yang relevan seperti agama dan pendidikan kewarganegaraan, serta merevitalisasi organisasi pelajar dan mahasiswa,” ujarnya.

      Prof Dr A Malik Fadjar, MSc tidak menampik bahwa paham radikal juga sudah mulai masuk dalam lembaga pendidikan di Indonesia. “Mencegah radikalisme juga tidak sederhana, bisa melalui buku bacaan, media, atau perbincangan yang khusus tentang hal ini,” kata Ketua Badan Pembina UMM yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini.

      Radikalisme, lanjutnya, memang harus dicegah karena merupakan satu dari tiga kejahatan luar biasa di Indonesia. “Ada tiga extraordinary crime, yaitu narkoba, terorisme, dan korupsi. Radikalisme sendiri akan menjurus pada terorisme,” ujarnya.

      Selain Azyumardi dan Malik Fadjar, Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq A Mughni juga menyampaikan pandangannya tentang penangkalan radikalisme di dunia pendidikan. Materi tersebut juga menutup kajian bertema besar “Ummatan Washatan menuju Indonesia Berkemajuan” yang diadakan sejak Sabtu (27/6). Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Drs Noer Cholis Huda, MSi menutup langsung kajian tersebut disusul dengan pembagian tiket menuju Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang akan diadakan 3-7 Agustus mendatang di Makassar. (zul/han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image