Angkat Nilai Profetik, Perkuat Martabat Bahasa Indonesia

Author : Humas | Kamis, 19 November 2015 18:40 WIB

PERKEMBANGAN teknologi informasi dan komunikasi telah membawa manusia pada keterasingan dan kekosongan batin. Penghayatan nilai-nilai profetik melalui bahasa dan sastra Indonesia diyakini dapat mengisi kekosongan tersebut. Hal itu terungkap dalam Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia yang diadakan oleh Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa-Rabu (17-18/22).

      Seminar yang digelar di Theater UMM Dome ini mengangkat tema “Nilai-nilai Profetik dalam Kehidupan Berbangsa melalui Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya”. Seminar menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya pujangga Sutardji Calzoum Bachri, penulis Seno Gumira Ajidarma, sastrawan Zawawi Imron, budayawan Prof Dr Abdul Hadi WM, dosen National University of Singapore (NUS) Dr Azhar Ibrahim Alwee, antropolog Malaysia Prof Dr Wan Zawawi Ibrahim, dan dosen Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Prof Dr Mawar Safei.

      Menurut ketua panitia Dr Ekarini Saraswati MPd, nilai-nilai profetik merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan berbagai persoalan berdasarkan nilai-nilai kenabian. “Kami yakin, nilai-nilai profetik yang digagas budayawan Kuntowijoyo dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu sastra, bahasa dan pembelajaran di sekolah sebagai dasar pembentukan karakter bangsa,” kata dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM ini.

      Ekarini menjelaskan, gagasan profetik memiliki tiga elemen yang dapat diterapkan dalam pembentukan karakter peserta didik, yaitu humanisasi, liberasi dan transedensi. Humanisasi artinya memanusiakan manusia, melampaui kebendaan, ketergantungan, kekerasan dan kebencian. Liberasi adalah gerakan pembebasan manusia dari segala penjajahan terhadap martabat manusia, sementara transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transcendental-keimanan sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban.

      Dosen NUS Azhar Ibrahim Alwee menilai, kesadaran profetik dapat membuat bahasa dan sastra memiliki nilai keberpihakan terhadap suara-suara yang terpinggirkan. “Kesadaran profetik menampung suara keadilan bagi mereka yang teraniya, sekaligus menjaga kehidupan agar tidak terjebak dalam arus dehumanisasi,” terang Azhar yang juga peneliti Muhammadiyah ini.

      Sementara itu sastrawan Zawawi Imron mengangkat salah satu kekayaan budaya Indonesia, yakni peribahasa yang dipandang mengandung kearifan bernilai sastra. Zawawi yakin, peribahasa-peribahasa yang ada pada seluruh etnik di Indonesia adalah mutiara-mutiara kalbu yang sangat berharga bagi pembentukan karakter bangsa.

      “Saya sangat berharap, perhatian terhadap peribahasa harus tetap digalakkan. Mulai dari pendokumentasian, pengkajian, terutama untuk peribahasa daerah perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai karya kreatif orang-orang zaman dahulu, peribahasa punya andil besar memberi spirit dan ilham dalam perjuangan kebudayaan,” papar Zawawi. (nov/han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image