Anak Muda Wajib Kritis dan Cerdas Pilih Caleg

Author : Humas | Sabtu, 27 Oktober 2018 09:24 WIB
Mokhammad Najih, Ph.D (Foto: Aan/Humas UMM)

PASCA munculnya polemik terkait dikabulkannya permohonan para mantan narapidana kasus korupsi menjadi calon legislatif (Caleg) pada Pemilu 2019 mendatang, banyak di antara kalangan akademisi melakukan kritisi atas kebijakan tersebut. Disampaikan Asri Rezki Saputra, keberadaan regulasi tersebut secara tidak langsung justru melahirkan cikal bakal penyalahgunaan kekuasaan. Padahal, tindakan korupsi dapat dicegah dimulai dari proses rekrutmennya.

"Regulasi ini menurut saya dapat menjadi cikal dari semakun besarnya tindak pidana korupsi," paparnya. Selain itu, mahasiswa yang aktif menjadi debater ini juga menyatakan sikap bahwa sebagai mahasiswa, sebagai anak muda, kita semua harus kritis dan jeli dalam menanggapi hal-hal semacam ini.

Mahasiswa Progran Studi (Prodi) Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga mengkritisi keberadaan mahasiswa yang ada pada posisi sebagai calon legislatif. Baginya, sebagai mahasiswa belum saatnya untuk terjun menjadi anggota legislatif. Justru langkah paling tepat adalah mahasiswa menjadi ujung tombak kritisi dari hasil aspirasi masyarakat.

Senada dengan pernyataan Rezki, dosen Fakultas Hukum (FH) UMM Mokhammad Najih, Ph.D juga menyatakan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam ranah menganalisis, mengkritisi, dan menyampaikan buah pikiran mereka. "Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh pembicara sebelumnya, bahwa pemuda memiliki ranah yang luas dalam menganalisis dan mengkritisi polemik ini," ujarnya, Sabtu (27/10).

Penulis buku best seller Hukum Indonesia: Sejarah, Konsep Tata Hukum dan Politik Hukum Indonesia ini berpendapat bahwa regulasi hukum tentang korupsi di Indonesia sudah terlalu berlebihan. Lanjutnya, koruptor di Indonesia semakin diberi regulasi semakin bebas untuk melangsungkan tindakan pidana tersebut.

"Regulasi hukum untuk para koruptor di Indonesia ini sudah over regulation yang jatuhnya tidak untuk ditakuti," tandasnya.

Perlu diketahui bersama bahwa terdapat 38 Caleg mantan narapidana kasus korupsi yang namanya sudah terdaftar di Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu Legislatif. Najih menyampaikan bahwa keberadaan jumlah tersebut harus diawasi dan dianalisis oleh generasi muda yang merupakan pemilih dengan suara yang banyak direbutkan oleh para Caleg tersebut. "Sebagai pemilih dengan suara yang diperebutkan oleh para Caleg, anak muda harus kristis dalam menganalisis," ungkapnya. (nis/can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image