american dreaming di Indonesia

Author : Humas | Kamis, 19 November 2009
American Dreaming

Laban Carick Hill, penulis berbakat dari Amerika Serikat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bertempat di Ruang Sidang Rektor, Senin, (5/10) Laban berbagi cerita tentang bukunya yang berjudul “America Dreaming”. Peraih berbagai penghargaan ini, bercerita pada peserta yang terdiri dari mahasiswa dan guru SMA-SMK se-Malang Raya. Acara yang digelar atas kerjasama Konsulat Jendral (Konjen) Amerika Serikat dengan American Corner (Amcor) UMM, berhasil membius peserta terutama kaum muda untuk bermimpi mengubah dunia dan memberi warisan untuk generasi selanjutnya.

Tahun 1960-an menjadi setting buku peraih  penghargaan The 2007 Parenting Publications Gold Award ini. Menurutnya, tahun 1960-an memiliki andil besar menjadikan AS menjadi seperti saat ini. Bagaimana kaum muda AS saat itu melakukan revolusi damai. Perubahan yang diserukan saat itu, membawa dampak yang cukup besar bagi AS. Yang menggiring pada perdamaian, equality serta saling menghargai. Buku ini menyoal budaya hippie, nasionalisme gerakan feminis.

Salah satunya keinginan kaum muda untuk mengikis perbedaan warna kulit. Ada anggapan di masyarakat AS, orang kulit putih adalah pemimpin, orang kulit kuning adalah pengikut dan orang kulit hitam adalah budak.  Bagaimana remaja berada di garis depan dalam perubahan sosial diera itu.

Dan nggapan tersebut sedikit demi sedikit terkikis. Laban mencontohkan, terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden AS menjadi tolok ukur bahwa AS telah menghargai perbedaan. Namun, Laban juga tidak menampik tidak semua ideal di AS. Contohnya, AS menerpakan perbedaan gaji perempuan dan laki-laki. “Perbedaannya, laki-laki dihargai USD 1 dollar dan perempuan hanya USD 0,75 dollar,”ujarnya.

Tidak dapat dipungkiri disetiap Negara selalu ada perbedaan, tidak juga di AS. Yang mungkin akan berdampak negatif. Bukan kesempurnaan yang dicari, namun bagaimana selalu ada perbaikan yang dapat diambil generasi selanjutnya. “Tidak semua ideal dan sempurna di AS, namun progress untuk menyempurnakan yang terpenting,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri UMM Soeparto, kedatangan Laban Hill diharapkan memberi inspirasi untuk kaum muda. Tidak semua hal yang dimiliki AS bisa menjadi acuan dan ideal. Selain itu, buku ini diharapkan tepat untuk menyampaikan misi social budaya AS di Indonesia. Melalui acara tersebut, diharapkan Indonesia belajar bagaimana budaya dan sejarah dapat menggiring Amerika mengambil kebijakan saat ini.

Diwaktu yang hampir berdekatan, Jum’at, (9/10) ditempat yang sama Amcor menggelar Engineering Education from Utah State University. Kali ini, hadir pembicara dosen Utah University Kunardi Lawanto.

            Kunardi, menularkan pola pengajaran di Utah State University kepada peserta perwakilan PTN/PTS yang hadir. Pola pembelajaran yang terapkan disana lebih difokuskan pada minat siswa. Pengenalan tentang Engineering telah diberikan sejak bangku TK. Harapannya, ilmu eksak yang selama ini dianggap “momok” menjadi hal menyenagkan, bukan sebuah paksaan. Siang itu, Kunardi menyinggung pola pembelajaran di Indonesi yang terlalu integral. Setiap anak diwajibkan mengikuti seluruh mata pelajaran yang dianggapnya sebuah trial error. Bukan difokuskan pada minat dan bakat siswa.(rka)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image