Indonesia | English | Arabic
Senin, 22 Desember 2014
Anda di : UMM >> Berita >> Berita Persyarikatan Muhammadiyah

Berita Persyarikatan Muhammadiyah

Muhammadiyah Kembalikan Nilai-Nilai Islam di Yogyakarta

Rabu, 21 November 2012 | 11:22:30 WIB | Dibaca: 1322

facebook umm twitter umm delicious umm digg umm icon print preview 2011  icon pdf 2011  doc 2011 Berita Persyarikatan icon ps 2011

 

Yogyakarta- Masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta merupakan masyarakat yang sarat dengan kebudayaan Jawa, Keraton, dan nilai-nilai Kejawen. Masyarakat awam dahulu kala belum mengerti benar apa itu Islam yang sesungguhnya. Masyarakat masih mempercayai hal-hal seperti Tahayul, Bid’ah dan khurafat yang dilarang oleh Islam. Sampai pada munculnya Muhammadiyah sebagai gerakan masyarakat yang ingin mengembalikan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

 

Demikian yang disampaikan oleh Prof. Mitsuo Nakamura dari Chiba University-Jepang dalam acara Bedah Buku The Crescent Arises Over The Banyan Tree : A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town, c.1910s-2010 2nd(Enlarged Edition) yang diadakan oleh Program Doktor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Sabtu (17/11) di Kampus Terpadu UMY. Dalam bedah buku kali ini juga dihadiri oleh Prof.Dr. Abdul Munir Mulkhan Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof.Dr. Bambang Cipto,MA Wakil Rektor I UMY, dan juga Hilman Latief,S.Ag.,MA.,Ph.D yang merupakan Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMY.

 

Nakamura menjelaskan bahwa dalam penelitiannya tentang perkembangan Islam di Jawa, Muhammadiyah merupakan gerakan pembaharuan yang benar-benar sangat berpengaruh. “Saya melihat Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H.A. Dahlan ini merupakan gerakan yang mencoba memurnikan praktik keislaman kalangan muslim Jawa khususnya di Yogyakarta. Muhammadiyah melakukan hal ini ditengah-tengah pengaruh Jawa yang sangat kental, namun akhirnya Muhammadiyah berhasil bertahan dan bisa berkembang pesat seperti saat ini,” Jelasnya.

 

Selain mengamati gerakan pemurnian Islam di Yogyakarta, Nakamura juga mengulas tentang kehidupan keluarga Muhammadiyah yang bisa memainkan perannya dalam perkembangan Muhammadiyah sendiri.” Ikatan kekeluargaan atau kekerabatanlah yang menjadi kunci utama Muhammadiyah menjaga sustainbilitas organisasinya ,” tuturnya.

 

Di sisi lain Prof.Dr. Abdul Munir Mulkhan selaku pembedah buku menegaskanan bahwa penelitian yang menjadikan Kota Gedhe sebagai objek penelitian ini merupakan sebuah potret ideal gerakan Muhammadiyah. “ Hal ini terlihat dari catatan Nakamura tentang masyarakat Yogyakarta pada tahun 1986 yang masih sangat kental dengan tradisi Abangan, namun setelah lebih dari 20 tahun sudah banyak berdiri ranting Muhammadiyah, Aisyiyah dan Nasyi’atul  ‘Aisyiyah di seluruh wilayah Yogyakarta,” tegasnya.

 

Senada dengan hal tersebut, pembedah buku lainnya Hilman Latief,S.Ag.,MA.,Ph.D mengungkapkan apresiasi yang tinggi terhadap Nakamura yang telah melakukan penelitian ini pada tahun 70-an sampai 2010. “Tentu itu semua adalah usaha dan dedikasi yang sangat luar biasa, dan juga memberikan kontribusi akademik yang juga sangat luar biasa,” ungkapnya.




Terkomentari

    Agenda

    Pengumuman