Indonesia | English | Arabic
Minggu, 23 November 2014
Anda di : UMM >> Berita >> Berita Persyarikatan Muhammadiyah

Berita Persyarikatan Muhammadiyah

Dakwah Muhammadiyah Harus Bersifat Mencerdaskan, Membebaskan dan Memberdayakan

Jum'at, 27 Juli 2012 | 09:02:49 WIB | Dibaca: 1921

facebook umm twitter umm delicious umm digg umm icon print preview 1465  icon pdf 1465  doc 1465 Berita Persyarikatan icon ps 1465

 

Yogyakarta- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Pengajian Ramadhan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (26-28 Juli 2012). Peserta berasal dari pimpinan dan pengurus Muhammadiyah, baik ditingkatan pusat, wilayah maupun daerah, termasuk di dalamnya undangan khusus. Pengajian Pengajian Ramadhan 1433H kali ini mengambil tema ”Dakwah Pencerahan Untuk Kaum Mustad’afin: Dari Teologi Ke Praksis Gerakan”. 

 

Acara ini dibuka langsung oleh ketua umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin. Dalam membuka sambutan sebelum menyampaikan ceramah iftitah, Prof. Dr. Din Syamsuddin mengingatkan kepada peserta bahwa Pengajian Ramadhan bukan hanya merupakan ajang silaturahmi, tetapi juga ajang silatul fikri dan silatul ilmi. Hal ini disampaikan untuk menegaskan tema Pengajian Ramadhan tersebut, sebab para peserta terutama adalah para cendekiawanatau cerdik pandai di Muhammadiyah.

 

Prof. Dr. Din Syamsuddin yang mengutip sejarahwan Taufik Abdullah menyatakan, ada tiga kata penting yang menjadi nalar dimensi pencerahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah yaitu mencerdaskan, membebaskan dan memberdayakan. “Hal inilah yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah dan sekarang sedang dikembangkan. Inilah jasa besar Muhammadiyah bagi bangsa dan negara dalam membangun peradaban,” jelasnya. Din Syamsuddin mengungkapkan tiga kata dasar sebagai dimensi pencerahan tersebut berkait erat dengan dakwah pencerahan bersinggungan dengan gerakan Muhammadiyah, dan ini dilakukan bukan hanya dalam teori, tetapi juga praksis gerakan Muhammadiyah.

 

Apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan yang besar, satu diantaranya adalah ad-dzulumat (kegelapan). Dunia yang diliputi oleh kegelapan ini adalah sebuah kerusakan dunia yang bersikat akumulatif. Mengahadapi faktor-faktor prima kausa, yaitu dimana hampir setengah dari penduduk dunia berada dibawah garis kemiskinan, upaya-upaya penyelamatan dunia seringkali salah dan kaprah. Bahkan seringkali upaya yang dilakukan justru pembodohan. Hal ini dapat dilihat dari pembangunan yang penuh ketimpangan.

 

Karena itu dakwah perlu dilakukan pencerahan, yaitu upaya yang memperbaiki sistem dunia dimana sistem dunia tidak bertuhan (antroposentrisme) atau tidak ada dimensi eskatologisnya. Artinya, dakwah pencerahan kehidupan perlu ada pertanggungjawaban. Kerusakan dunia ini diakibatkan oleh HAM yang tidak ada pertangungjawabannya.

 

Prof. Dr. Din Syamsuddin mencontohkan pembangunan yang penuh dengan ketimpangan. Pada saat pencapaian pertumbuhan yang cukup tinggi, justru kemiskinan tumbuh dimana-mana. Kita lihat jumlah rakyat miskin di Indonesia ada 31 juta, kemiskinan ini jika diasumsikan pendapatan penduduk sebesar 1$ USD, tetapi jika tersebut dinaikkan menjadi 2$ USD maka jumlah rakyat miskin ada 107 Juta. Mengapa harus 2$ USD, sebab pendapatan 1$ USD tidak mungkin mencukupi kebutuhan makan dalam sehari, misalnya jika dikrus kan 1$ USD adalah Rp. 10.000,-.

 

Menghadapi ini, menurut Din Syamsuddin, dunia Islam belum menjawab apa, bahkan justru seringkali karikatif. Lalu, hal seperti apa yang bisa dilakukan? kaum mustad’afin adalah bagian dari kita, mereka miskin bukan karena mereka malas, tetapi mereka miskin karena termiskinkan baik secara struktural dan kultural. “Karena itulah Muhammadiyah lahir dan memunculkan model-model praksis pemberdayaan. Di Muhammadiyah, dakwah pencerahan dalam bentuk pemberdayaan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) tetapi juga harus dipikul oleh semua warga Muhammadiyah,” pungkasnya.




Berita Terpopuler

Terkomentari