Mengapa Kita Bersin Saat Terkena Cahaya Matahari?

Author : Administrator | Kamis, 25 Agustus 2016 12:58 WIB

Jika Anda mengalami bersin-bersin hebat sesaat setelah melangkah keluar dari ruangan gelap dan terkena sinar matahari, mungkin Anda mengidap ACHOO.

Mengapa Kita Bersin Saat Terkena Cahaya Matahari?
Studi mengungkap, bersin cahaya atau photic sneeze reflex (PSR) sekedar refleks klasik yang terjadi pada batang otak atau pun sumsum tulang belakang, namun juga melibatkan area kortikal otak lainnya. (Thinkstock)

Pernahkah Anda mengalami bersin-bersin hebat sesaat setelah melangkah keluar dari ruangan gelap dan terkena sinar matahari? Padahal sebenarnya Anda tidak sedang flu atau kedinginan.

Jika menjawab “Ya”, berarti Anda termasuk dalam 20-35 persen populasi manusia dunia yang menjadi korban sindrom “bersin cahaya” atau dikenal juga sebagai photic sneeze reflex (PSR).

Mengapa beberapa orang bisa mengidap sindrom tersebut? Bagaimana bisa cahaya membuat orang bersin-bersin?

Fenomena ini sebenarnya sudah dikenali sejak lama. Filsuf Yunani kawakan, Aristoteles, pada tahun 350 SM pernah mengutarakan pertanyaan “Mengapa sinar matahari memicu bersin?” dalam The Book of Problem. Itulah bukti tertulis pertama tentang PSR. 

Menurut teori Aristoteles, hangatnya sinar matahari menyebabkan hidung dan mulut lembap serta berkeringat. Kondisi inilah yang memicu bersin.

Tetapi pada abad ke-17, ilmuwan bernama Francis Bacon menyanggah teori Aristoteles. Ia membuktikannya dengan cara menatap matahari dengan mata tertutup. Cara itu, membuatnya tak bersin. Ia menyimpulkan bahwa menatap matahari membuat mata kita berair, yang mengalir turun ke hidung dan dapat menyebabkan bersin.

Teori Bacon kemudian juga dibantah oleh beberapa ilmuwan lain. Sebab bersin terjadi seketika setelah kita terpaan cahaya matahari. Sementara mata membutuhkan waktu beberapa saat untuk berair.

Fenomena ini tak lagi diteliti hingga hampir 350 tahun kemudian. Akhirnya, studi pada 1964 mulai menguak penjelasan ilmiah tentang PSR. Bersin cahaya sebenarnya terkait dengan genetik.

Studi menunjukkan bahwa sindrom tersebut bersifat autosomal dominan. PSR akan timbul meskipun hanya terdapat satu gen yang bawaan dari salah satu orang tua. Sebagai perbandingan, penyakit autosom resesif akan muncul saat seorang individu memiliki dua gen  bawaan.

Dengan kata lain, jika orang tua merupakan pengidap sindrom bersin cahaya, maka probabilitas anaknya menderita sindrom serupa adalah sebesar 50 persen.

Penelitian lebih lanjut tentang PSR dilakukan oleh Roberta Pagon pada tahun 1978. Dalam konferensi yang membahas tentang cacat lahir, Roberta Pagon bersama rekan-rekan doktor lainnya meneliti dan membahas tentang bersin cahaya.

Mereka menemukan bahwa frekuensi bersin cahaya dalam satu keluarga cenderung sama, namun berbeda jika dibandingkan dengan keluarga lain.

“Ada keluarga yang frekuensi bersinnya tiga kali, sementara ada juga yang lima kali atau hanya sekali,” ujar Pagon.

Dengan informasi tambahan ini, para ilmuwan dalam konferensi tersebut melakukan penelitian lebih lanjut dan menulis jurnal ilmiah tentang bersin cahaya. Mereka juga memberi bersin cahaya sebuah nama yang lebih ilmiah:sindrom autosomal dominant compelling helio-ophthalmic outburst (ACHOO).

Apa yang menyebabkan bersin cahaya?

Studi yang dilakukan oleh profesor dari Zurich University, Nicholas Langer pada 2010 silam berusaha mengungkap penyebab bersin cahaya dengan menguji reaksi otak orang-orang pengidap ACHOO dan tidak.

Ia menggunakan mesin Electroencephalography (EEG) dan memberikan paparan cahaya pada para partisipan untuk mengukur respon otak dan saraf mereka.

Hasilnya sangat mengejutkan. ACHOO bukan sekedar refleks klasik yang terjadi pada batang otak atau pun sumsum tulang belakang, namun juga melibatkan area kortikal otak lainnya.

Ada dua teori yang disampaikan oleh Langer. Pertama, sistem visual pada otak sangat sensitif terhadap cahaya. Rangsangan berlebihan dari cahaya memicu respon panik dari bagian otak lain, termasuk sistem somatosensori yang mengontrol bersin.

Teori yang kedua, tak jauh berbeda dengan teori Aristoteles dan Bacon. Iritasi pada hidung memicu bersin, tetapi tak seperti teori Aristoteles dan Bacon, ini tak ada sangkut pautnya dengan kelembaban. Iritasi dapat dirasakan oleh saraf trigeminal, yang berperan dalam sensitivitas wajah tertentu dan kontrol motorik.

Dalam teori kedua ini, penyebab bersin cahaya adalah salah paham pada otak. Letak saraf trigeminal berdekatan dengan saraf optik, yang bertugas mengirimkan informasi visual dari retina ke otak. Ketika tiba-tiba cahaya menyerbu retina dan saraf optik mengirimkan sinyal ke otak untuk mengecilkan pupil, sinyal tersebut—menurut teori Langer—dapat dirasakan oleh saraf trigeminal dan dikirimkan ke otak, sehingga otak mengira bahwa hidung sedang iritasi, itulah sebabnya seseorang bersin.

Jadi jika lain kali Anda keluar dari ruangan gelap, terpapar sinar matahari dan langsung bersin-bersin tidak karuan, setidaknya Anda tahu siapa yang harus disalahkan: Orang tua Anda. Atau Matahari. Atau bisa juga kedua-duanya. 

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1