Mendidik Anak Harus dengan Cinta

Author : Administrator | Rabu, 25 Mei 2016 14:55 WIB | Wawasan - Wawasan

UMM dalam Berita Koran Online

MALANG– Kekerasan melibatkan anak sebagai pelaku akhir-akhir ini merupakan fenomena yang tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab guru dan orang tua. Mereka melakukan kekerasan karena juga kerap mendapatkan perlakuan yang keras dari orang tua atau guru.

Hal ini diungkapkan psikolog anak, Seto Mulyadi, dalam seminar nasional pendidikan yang dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang di Theater UMM Dome kemarin. Dalam seminar bertema “Peran Profesionalisme Guru dalam Menjawab Pendidikan Menuju Generasi Emas” tersebut, Seto mengingatkan bahwa anak secara sederhana hanya memimpikan sosok guru yang memperhatikan dan mengerti dunia mereka.

“Kalau itu bisa dilakukan, itulah guru yang sukses dan profesional. Itulah guru yang keren, yaitu guru yang memahami psikologi anak didiknya,” kata dia. Menurut Seto, anak nakal identik dengan mereka yang dijewer ibunya, dibentak bapaknya dan dihukum gurunya. Perlakuan itu kemudian mengendap dan dianggap sebagai kebenaran untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain.

“Nanti kalau sudah menjadi guru atau sudah berkeluarga, punya anak-anak yang luculucu, yang hebat-hebat, janji ya gak akan dibentak. Kalau mau jadi pendidik, kita harus kampanye senyum. Ingat, semua berawal dari kekuatan cinta,” kata Seto di hadapan para mahasiswa. Dalam pandangan Seto, dunia anak adalah dunia bermain.

Karena itu cara mendidik anak haruslah dengan cara bermain, bukan dengan cara kekerasan seperti membentak, menjewer atau yang lainnya. Ada lima ciri utama cara mendidik anak dengan bermain. Pertama, bermain didorong motivasi dari diri sendiri sehingga apa akan dilakukan anak memang betulbetul memuaskan diri mereka.

“Bukan karena iming-iming hadiah atau karena diperintah orang lain,” kata dia. Kedua, lanjut Seto, bermain dipilih secara benar sesuai keinginan anak. Ketiga, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan. Keempat, bermain tidak selalu harus menggambarkan hal yang sebenarnya.

Kelima, bermain senantiasa melibatkan peran serta aktif anak, baik secara fisik, psikologis maupun keduanya sekaligus. Itu sebabnya, untuk bisa mendidik anak dengan bermain, seorang seorang guru harus juga menjadi pendongeng, penyanyi, bahkan pesulap. “Mereka (anak-anak) bukanlah orang dewasa berukuran mini. Dunia mereka adalah dunia bermain. Anak selain bertumbuh secara fisik juga berkembang secara psikologis.

Dia kreatif dan suka meniru,” jelas Seto. Rektor UMM, Fauzan menegaskan kehadiran Kak Seto merupakan representasi tetesan embun di tengah dahaga masyarakat. Dia menilai saat ini perkembangan psikologi pendidikan mengalami sakit yang lumayan parah akibat faktor lingkungan.

maman adi saputro


Sumber: http://www.koran-sindo.com/
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image