Logika Terbalik Kelompok Teroris

Author : Administrator | Selasa, 23 Februari 2016 13:42 WIB | Wawasan - Wawasan

UMM dalam Berita Koran Online

MALANG – Kawasan Malang Raya merupakan salah satu basis militer di Indonesia. Namun, kawasan ini justru “akrab” dengan perkembangan terorisme. 

Pada era 1980-an, kelompok Komando Jihad pernah berkembang di Kota Malang. Gerakan ini sempat menggegerkan dunia dengan meledakkan sembilan stupa di Candi Borobudur dan percobaan peledakan sejumlah tempat ibadah. Setelah Orde Baru runtuh, berkembang gerakan-gerakan sejenis menjadikan kawasan Malang Raya sebagai salah satu tempat atau basis gerakan. 

Sebut saja pada awal 2000-an dengan masuknya duo Malaysia, Dr Azhari dan Noordin M Top. Dua buron kakap negara dalam kasus terorisme ini akhirnya tewas dalam baku tembak di sebuah rumah kontrakan di Kota Batu pada 2005. Di era Islamic State of Iraq-Syria (ISIS), pada akhir 2015 ditangkap tiga orang di Kota Malang yang menjadi pengikutnya. Akhir pekan lalu, giliran anggota jaringan teror Jalan Tamrin, Jakarta, yang digulung tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. 

Menurut pengamat pertahanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhadjir Effendy, kelompok-kelompok radikal tersebut memang bisa bersembunyi dan menjadikan markas di mana pun. Namun, dia mengakui kelompok ini kerap menggunakan logika terbalik, melawan common sense. Bukan saja tentang pemahaman ajaran agama, namun juga berkiatan dengan hal-hal teknis soal keamanan gerakan. 

“Contohnya agar gerakan mereka tidak dicurigai kelompok ini memilih bermarkas di dekat kantor desa atau kantor polisi,” ujar Ketua Bidang Pendidikan, Kebudayaan, Penelitian, dan Pengembangan, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah ini. Hal itu, kata Muhadjir, jelas berlawanan dengan logika umum yang meyakini kantor pemerintahan atau kantor polisi membahayakan gerakan perlawanan. 

Logika umum mengatakan markas gerakan harus menjauh dari tempattempat itu. “Tetapi hal ini tidak dilakukan oleh para pelaku gerakan radikal. Mereka seperti pelaku kejahatan yang sudah lihai, dan memahami psikologi keamanan atau The Security Of Psychology,” ungkap Muhajir.

Pemain Lama 

Sementara Abugar alias Badrodin, satu dari enam tersangka jaringan teroris yang ditangkap di Malang merupakan mantan narapidana terorisme. Menurut data kepolisian, dia pernah mendapat pelatihan militer di Moro, Filipina Selatan. Namanya juga muncul dalam konflik Ambon dan Poso. Dia dihukum sembilan tahun penjara karena terlibat penyerangan Pos Brimob di Loki, Seram Bagian Barat (SBB), pada Mei 2005 dan penyerangan sebuah kampung di Pulau Buru pada 2004. 

Kaitannya dengan teror di Jalan Thamrin, Jakarta, Abugar diduga berhubungan langsung dengan Ali, salah satu pelaku tewas. Bersama Ali, Abugar diketahui ke Lapas Nusakambangan pada akhir 2015 menemui narapidana terorisme, seperti Aman Abdurrahman, Abu Bakar Baasyir, dan Iwan Dharmawan alias Rois. 

Sementara Muhammad Romli, tersangka lain yang ditangkap Densus 88 Antiteror pada Jumat (19/2) malam, diketahui pernah memimpin unjuk rasa ketika terjadi keributan oleh narapidana kasus terorisme di dalam Lapas Lowokwaru Malang pada 9 Agustus 2015.

Romli juga pernah mendeklarasikan kelompok Ansharul Khilafah di Masjid Jami Sulaiman Al- Husnaishil di Dusun Sempu, Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada 20 Juli 2005. Kelompok ini diduga terhubung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). 

Kepala Polres Malang, AKBP Yudo Nugroho Sugianto menyatakan, saat ini kondisi wilayah Malang sangat kondusif. Tidak terpengaruh dengan ada penangkapan para terduga teroris. “Kami berterima kasih atas dukungan dan doa dari masyarakat, atas keberhasilan ini. Diharapkan masyarakat semakin berperan aktif dalam menjaga keamanan lingkungan sekitarnya,” katanya. 

Dia berharap masyarakat lebih peduli terhadap kehadiran orang asing di wilayahnya. Menerapkan sistem laporan untuk pendatang menginap lebih dari 24 jam di lingkungannya sehingga mampu mendeteksi sejak dini gerakan radikal yang merugikan masyarakat dan negara. 

Sumber: http://www.koran-sindo.com/news.php?r=7&n=7&date=2016-02-23
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image