Mahasiswa UMM Bikin Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

Author : Administrator | Sabtu, 04 Januari 2020 11:26 WIB | Times Indonesia - Times Indonesia

TIMESINDONESIA, MALANG – Lagi, inovasi datang dari Kampus Putih. Ya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat sistem pintar pendeteksi kebakaran hutan.

Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana adalah tiga mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM yang sukses menggagas inovasi berbasis teknologi ini.

Ketua kelompok, Billy Aprilio, menjelaskan Indonesia adalah negara yang menempati posisi ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. Namun kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai. 

Dasar itulah yang mendorong mereka untuk membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management Sistem, sebuah alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

“Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” katanya, Kamis (2/1/2020).

Kasus kebakaran hutan, kata dia, menjadi masalah yang hingga kini masih belum teratasi, bahkan dunia ikut menyoroti. Ini dapat dilihat dari data BNPB per 15 September 2019 yang mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sebesar 328.722 hektare dengan jumlah titik panas 538 titik.

Inovasi yang dibimbing oleh dosen Fakultas Teknik Nur Hayatin, S.ST, M.Kom ini digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.

“Hutan memegang peran penting bagi kehidupan diantaranya adalah filter dalam mengurangi pemanasan global, dan penghasil oksigen terbesar di dunia. Bercermin dari peran penting hutan, disayangkan jika hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dari setiap tahunnya. Banyak penyebab berkurangnya hutan di Indonesia salah satunya yaitu masalah kebakaran hutan,” terang Billy.

Inovasi teknologi ini dinilai dapat menjawab tantangan kebakaran hutan di Indonesia. Ia menyebut upaya pemerintah diantaranya pengefektifan perangkat hukum, menerapkan metode kampanye sadar masyarakat, dibangunnya embung, membangun menara pengawas dan lainnya.

Ketika terjadi kebakaran, upaya pemadaman yang dilakukan adalah dengan meningkatkan teknologi dalam upaya pemadaman, kemudian dilakukan operasi pemadaman, juga evakuasi dan penyelamatan.

 

Karya mereka ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran.

“Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” lanjutnya.

Dijelaskan Billy, penyemprot akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali.

“Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” terangnya.

Selanjutnya, hasil dari fog harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. Kemudian untuk power supply, mereka menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang diaplikasikan pada pompa penyemprot air.

“Dengan adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar,” bebernya.

Sistem pintar yang dibuat mahasiswa UMM ini diharapkan bisa segera direalisasikan dalam waktu dekat sebagai upaya kontribusi masalah kebakaran hutan yang kerap melanda Indonesia di kala musim kemarau panjang. (*)

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/245395/mahasiswa-umm-bikin-sistem-pintar-pendeteksi-kebakaran-hutan
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared: