Quran Sebagai Perantara Penelitian

Author : Administrator | Sabtu, 30 April 1988 12:56 WIB | Tempo Online - Tempo Online

TIGA belas tahun sudah umur Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama. Tapi metodologi penelitian agama, yang pada 1975 dicari oleh para peserta Program Studi Purnasarjana IAIN, di Yogya, belum juga selesai diperbincangkan. Ketika Universitas Muhammadiyah Malang menyeminarkan lagi soal itu, menjelang puasa lalu, suasananya kembali semarak. Sekitar 12 makalah disajikan kepada 80 peserta, 27 di antaranya doktor. "Kita mencari metodologi penelitian agama yang tepat-terap," kata Muhajir Effendy, dari panitia seminar.

 

Sedang eks Menteri Agama Mukti Ali (masih guru besar di IAIN Yoya) menakui, di negeri ini penelitian agama memang belum berebak. Pengganjal utama, karena metodologinya belum ada. Tapi ada kecenderungan: sekarang ahli ilmu sosial mempelajari agama, dan ahli agama mempelajari masalah sosial. Mahasiswa IAIN sudah pula mulai keranjingan membaca sosiologi. Memang tak mudah untuk meneliti agama. Agar jalannya lancar dan ilmiah - jelas perlu metode tersendiri. Apalagi agama sebagai refleksi iman, itu terungkap dalam kehidupan. Tapi agama bukan sekadar jawab dari ketidaktahuan bahkan misteri yang menafikan jawab yang selesai.

 

Karena itu, penelitian bukan saja ditujukan pada agama, juga terhadap refleksi agamis. Dan itu dalam situasi kongkret dengan tidak membuang sikap agamis. Lantas: sungguhkah situasi kongkret itu sebagai refleksi dari agama? Jangan-jangan ini cuma dari sikap dunia, hingga, mengapa penelitian agama masih dalam dllema. Hatta, di Islam, yang konon tiada berbatas tegas, misalnya, antara agama yang disucikan itu dan politik yang profan? Padahal, menurut akhlak dan jika niat sudah suci - maka semua kerja itu berpahala. Lalu disebut "beragama". "Sikap agamis, itulah pembeda penelitian agama dari yang lainnya," kata Mukti Ali. Jadi, itu ada subyektivisme. Atau, menurut Taufik Abdullah: tanpa pertanyaan, tak ada penelitian yang relevan.

 

"Maka, metodenya sintesis. Yaitu doktriner ilmiah dan sosiohistoris. Dan itu membuat orang luar dapat memahami satu agama tanpa menjadi anggota agama yang ditelitinya." Ini artinya mengabsahkan orientalisme? Pantas diingat kembali bahwa Mukti Ali pernah mencanangkan oksidentalisme, orang Timur belajar tentang Barat.

 

Nah,bukankah ini ada saling mempelajari? Apalagi dalam era komunikasi sekarang. Misalnya, tersiarnya ragam peristiwa di radio, televisi, dan surat kabar. Ketika revolusi Islam di Iran, tampil Khomeini. Bahkan ada runtun pembunuhan dan terorisme. "Semua itu gejala apa?" tanya Taufik Abdullah, peneliti dari LIPI itu. Juga contoh lain seperti skandal Jimmy Swaggart, penginjil di televisi AS. Apa itu kelemahan manusia atau kemunafikan? Menurut Taufik Abdullah, penelitian agama berarti kesediaan untuk mendekatinya sebagai gejala sosial kultural, bukan suatu seiarah. "Penelitian agama sebaiknya bertolak dari kesadaran metodologis akan adanya hubungan timbal balik yang dinamis, segi tiga, antara pola pen laku, struktur realitas, dan dunia ide atau nilai," ujarnya. Dalam ide dan nilai, perlu pula dirujuk buku-buku teks - yang pemahamannya bukan tanpa masalah dengan konteks zaman.

 

 "Quran, sebagai kanon ajaran, saya perhatikan sebagai obyek kultural," kata Taufik berterus terang. Pertama, ada distansi atau jarak antara Tuhan dan peneliti lalu Quran itulah perantaranya. Masalahnya, karena ada dekontekstualisasi. Soal waktu. Dalam hal ini, menurut Taufik, metode strukturalis lebih mempunyai harapan. Misalnya penaf. siran seperti yang dilakukan Fazlurrahman. "Umat berselisih karena beda menafsir Quran," kata Quraish . Shihab, dosen IAIN Jakarta. Karena yang itu belum tuntas, Ahmad Syafii Maarif, dosen di IAIN dan UGM Yogya, alah beranjak jauh.

 

 "Kita harus merumuskan suatu pandangan dunia Quran yang komprehensif, sistematis, dan padu," katanya. Padahal, kalau mendudukkan wahyu sebagai pembenaran postulat alias yustifikasi, menurut Prof. Dr. Noeng Muhajir, itu bisa berakibat ke baku-debat. Karena jika tidak sesuai dengan itu, maka penelitian ditolak.

 

Contohnya, debat antara para ahli filsafat. "Pemaksaan penyesuaian filsafat Yunani dengan ajaran Islam, lewat takwil, perlu dikaji ulang," kata Ahmad Azhar Basyir, M.A., dosen filsafat di UGM Yogya. Tapi, menurut Nurcholish Madjid, penelitian agama tidak bisa meninggalkan studi Islam klasik. "Ibn Khaldun itu perintis penelitian Islam secara empiris," kata Kepala Bidang Penelitian Agama LIPI itu pada TEMPO. Padahal, studi klasik itu sendiri tidak mudah. Dan tentang filsafat tadi - agar tidak dianggap meloncati sejarah - Ibn Taymiyyah dan lain-lain perlu juga ditoleh.

 

Bukunya seperti al-Radd 'ala al-Manthiqiyyin (Sanggahan terhadap Kaum Logikawan) pantas dikaji. Apalagi dia membabat habis logika Yunani. Termasuk terhadap pengagum yang menyukai logika takwil ayat seperti Ibn Sipa, al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. "Bagi saya, Quran dan hadis menuntun ke pemecahan masalah," tutur Noeng. Anggota Majelis littilitbang PP Muhammadiyah itu, dalam meneliti, menyelipkan ayat Quran dan hadis - di antara kutipan pendapat para ahli. Baginya, Quran dan hadis adalah kebenaran, yang sekaligus kebijaksanaan tertinggi. Bahkan, yang terakhir ini memang yang dicari.

 

Dengan menafsir? Noeng menganjurkan keterbukaan terhadap alternatif metodologi penelitian yang beragam. "Silakan memilih sendiri yang lebih sesuai," ujarnya. Dan untuk penelitian kuantitatif, dia malah menggunakan positivisme-plus. Yaitu mendudukkan nilai dalam tata hierarki kebenaran. Di Indonesia, penelitian agama dengan metode kuantitatif belum banyak mendapat perhatian. Setidaknya, itu dapat dilihat dalam Penelitian Agama: Masalah dan Pemikiran, buku yang disunting Mulyanto Sumardi. "Penelitian kuantitatif bisa dianggap arah baru penelitian agama di Indonesia," kata Drs. Abdullah Fadjar, M.Sc., dosen IAIN Yogya. Menurut Dawam Rahardjo, sekarang agama diharap turut berperan mengubah masyarakat. Lewat reaktualisasi, maka unsur-unsur agama yang positif itu diambil. "Pandangan kita mengenai agama dalam konteks pembangunan dan modernisasi mesti diubah," kata Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) Jakarta itu.

 

Dahulu, di tahap awal, agama itu sering dianggap menghambat. Kini sekularisasi dan reaktualisasi sekaligus bisa diterima dengan sikap kritis. Maka, untuk menuju ke masa depan, kita harus bisa mengembangkan teori-teori sosial yang mengacu ke ajaran Islam. Caranya, menurut Dawam, lewat penelitian empiris atas praktek berkeadilan, bertakwa, bermusyawarah, beramal saleh - dan itu semua di dalam masyarakat.

 

Dari teori serta praktek dimaksud barulah dibangun suatu "tubuh pengetahuan" atau body of knowledge. Setelah nanti ada metodologinya, seorang peneliti tak bisa di meja terus. Apalagi agama memang sudah lama menunggu.

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1988/04/30/AG/mbm.19880430.AG27088.id.html
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image