Solusi Produksi Rendah, Mahasiswa UMM Rancang Bangun Mesin Pembuat Garam

Author : Administrator | Senin, 18 November 2019 09:42 WIB | surya malang - surya malang

 

 

 

 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tim mahasiswa prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat mesin rancang bangun mesin yang dilombakan di kegiatan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia baru-baru ini.

Dari hasil seleksi para finalis yang berjumlah 8 tim, tim Kampus Putih UMM berhasil mendapat peringkat dua.

Namanya Smart Tongkang, mesin pembuat garam berkualitas. "Kurangnya pendampingan dari ahli, dan eksploitasi tradisional menjadikan pembuatan garam kurang maksimal. Selain masalah kepemilikan lahan terbatas," jelas Haryo Widya Darman, mahasiswa Teknik Mesin UMM dalam rilis, Senin (14/10/2019). Pembuatan garam oleh petani juga masih tradisional sehingga garam lokal kurang diminati.


 

Di satu sisi, pemerintah melakukan impor garam.Pada 2018 impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 83,6 juta USD. Dan pada an 2019 impor garam dialokasikan 2,7 juta ton. Alasan impor karena produksi garam lokal tidak memenuhi kebutuhan yang ada. Baik untuk industri dan pangan.

Sehingga diperlukan solusinya yaitu penambahan lahan yang fleksibel namun membantu percepatan produksi garam yang sesuai standar layak. Sehingga bisa dipindah-pindah dan didekatkan menuju pabrik. Ini bisa mengurangi biaya transport dan operasional truk. “Solusi berupa penambahan lahan terapung," jelasnya.

 

Untuk mendukung itu perlu teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya. Alat itu juga dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan.

Maka pembuatan tambak garam hybrid diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri. Rancangan tongkang ini diharapkan dapat menjawab masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut. Selain itu, kualitas garam yang bisa ditingkatkan seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika.

 

“Sehingga, produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi," kata mahasiswa ini. Jika ini bisa dilakukan, maka bisa membantu menghentika impor garam yang dilakukan pemerintah. Untuk rancang bangun mesin ini sedang dilakukan menyusun dokumen paten untuk produk ini. Dalam lomba ini, ia bersama mahasiswa Teknik Mesin lainnya. Yaitu Zehandana Khatami dan Annisa W.



 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image