Menggugat Pendidikan Hard Skill

Author : Administrator | Senin, 04 Oktober 2004 13:57 WIB | Suara Merdeka - Suara Merdeka

SUNGGUH mengagetkan dunia pendidikan di Indonesia ketika diumumkan hasil penelitian dari Harvard University, Amerika Serikat (AS). Penelitian itu mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% dengan hard skill dan sisanya 80% dengan soft skill.

Kalau realitas itu kita jadikan acuan untuk melihat pendidikan di Indonesia sungguh memprihatinkan. Pendidikan kita ternyata masih berkutat pada pendidikan gaya hard skill saja.

Misalnya, sudah lama pendidikan di Indonesia digugat gara-gara tidak memberikan perangkat praktis kepada anak didik (hard skill), dan hanya berkutat pada masalah teoritis. Jadi, seolah pendidikan kita hanya berorientasi pada hard skill saja, bahkan 100%.

Memang, kalau ditanyakan pada kalangan pendidikan, pendapat ini akan disalahkan. Mereka umumnya juga memberikan pelajaran bagaimana mengelola diri dan berhubugnan dengan orang lain pada anak didik. Tetapi, ini hanya terjadi pada kasus per kasus. Artinya, muatan soft skill dalam kurikulum belum kelihatan, untuk tak mengatakan tidak ada sama sekali.

Pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan, yang meliputi bagaimana anak didik terampil dalam menerapkan manajemen diri (berkomunikasi, memimpin, membina hubungan dengan orang lain, dan mengembangkan diri).

Ketidakmampuan memberikan pendidikan soft skill mengakibatkan lulusan hanya pandai menghafal pelajaran dan sedikit punya keterampilan ketika sudah di lapangan kerja. Mereka akan menjadi ''mesin'' karena penguasaan keterampilan tetapi lemah dalam memimpin. Mereka juga merasa sudah sukses kalau punya keterampilan, padahal membuat jaringan juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam sebuah pengembangan usaha.

Ketika lulus, mereka dihadapkan pada kompetisi yang keras. Umumnya, mereka patah semangat dan tak ada usaha untuk merebutnya. Mereka lebih suka menjadi pegawai negeri yang mempunyai gaji tetap dan dapat uang pensiun. Bahkan Robert T Kityosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad pernah menyindir bahwa mereka umumnya bekerja untuk uang dan bukan uang bekerja untuk mereka.

Untuk meningkatkan pendapatan, mereka harus bekerja lebih lama, padahal mereka bisa bekerja kurang dari itu dan mendapatkan keuntungan lebih besar.

Ubah Kurikulum

Umumnya, orang Indonesia angkuh, tidak mau mengalah, inginnya dipahami orang lain dan bukan memahami orang lain. Lihat saja, kalau kita datang ke bank pemerintah atau instasi pemerintah lain. Lihat gaya teller atau customer service dalam melayani.

Sangat berbeda dari perusahaan swasta yang membiasakan diri dengan budaya melayani (karena ini kunci suksesnya dan menjadi dasar pendidikan soft skill ) dengan berdiri dan menanyakan apa yang bisa dibantu. Berapa persen kita mendapatkan pelayanan ini dari instansi pemerintah?

Oleh karena itu, jarang pendidikan kita mengajarkan bagaimana memahami dan menarik pelajaran dari pengalaman hidup, kesulitan, krisis dan berbagai bentuk kegagalan dalam kehidupan ini.

Pendidikan kita melulu menekankan pada hard skill. Jangan heran jika bakat sering menjadi satu-satunya tolok ukur yang bisa menentukan kesuksesan seseorang. Padahal bakat tak lebih dari 10 persen, selebihnya itu kerja keras.

Apa yang harus dilakukan dengan pendidikan kita yang sudah seperti itu? Yang ideal tentu mengubah kurikulum. Karena kurikulum inilah yang sering dijadikan alasan pendidik untuk mengajar. Beberapa alasan, seperti ''saya kan sudah mengajar berdasarkan kurikulum'' menjadi bentuk ''pengkambinghitaman'' pada kurikulum jika target proses belajar mengajar tidak optimal.

Tetapi, mengubah kurikulum juga bukan pekerjaan mudah. Pendidik seharusnya memberi muatan-muatan pendidikan soft skill pada pelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Siapa yang harus melakukan? Tentu idealnya pemerintah dan lembaga penyelenggara pendidikan. Pendidik bisa belajar sendiri dari buku-buku.

Sekali lagi, betapa penting penerapan pendidikan soft skill. Tidak saja untuk anak didik, tetapi bagi pendidik juga perlu diberi pelajaran seperti itu. Pendidikan itu akan meminimalkan munculnya orang yang sok tahu, mau menang sendiri, dan bermental menerobos. Kalau tidak, krisis multidimensi di negara kita yang sudah berjalan lama, lambat untuk dipulihkan. Inilah pentingnya penerapan pendidikan soft skill di lingkungan lembaga pendidikan. (29)

- Nurudin, mahasiswa Pascasarjana UNS, dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/04/opi04.htm
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared: